Pakistan Desak AS dan Iran Hentikan Serangan, Minta Kembali ke Meja Perundingan. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pakistan kembali menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran segera menghentikan aksi saling serang yang terus berlangsung dalam sepekan terakhir. Islamabad menilai eskalasi konflik hanya akan memperburuk stabilitas kawasan sekaligus mengancam pasokan energi dan perdagangan global.
Karena itu, Pakistan meminta kedua negara kembali ke meja perundingan sesuai nota kesepahaman yang telah disepakati sebelumnya.Pakistan Tekankan Dialog sebagai Jalan Perdamaian
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, mengatakan negaranya terus mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan menghindari langkah-langkah yang dapat memperbesar konflik.
"Seiring berlanjutnya permusuhan selama sepekan terakhir, Pakistan kembali menyerukan kepada semua pihak agar menahan diri semaksimal mungkin dan tidak melakukan tindakan yang dapat semakin merusak perdamaian dan stabilitas," ujar Andrabi kepada wartawan di Islamabad, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, dialog dan diplomasi tetap menjadi satu-satunya cara yang efektif untuk mencapai perdamaian jangka panjang.
"Pada akhirnya, semua konflik dan perselisihan diselesaikan melalui dialog di meja perundingan," katanya.
Nota Kesepahaman Islamabad Jadi Acuan
Baca juga:
180 Anggota Parlemen Iran Desak Pemerintah Batalkan MoU dengan AS, Ketegangan Kembali MemanasAndrabi menjelaskan Pakistan terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak guna membantu meredakan ketegangan yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran.
Ia mengingatkan bahwa bulan lalu kedua negara telah menandatangani Nota Kesepahaman Islamabad yang memberikan waktu selama 60 hari bagi Amerika Serikat dan Iran untuk merundingkan kesepakatan damai permanen.
Menurut Pakistan, dokumen tersebut masih menjadi kerangka penting dalam membangun perdamaian, saling menghormati, dan kemakmuran bersama.
Meski implementasinya menghadapi berbagai tantangan, Islamabad menegaskan akan terus mendorong penghentian kekerasan serta melanjutkan perundingan teknis sesuai nota kesepahaman dan pernyataan bersama Pakistan-Qatar pada 22 Juni.
Sebelumnya, setelah penandatanganan kesepakatan sementara, delegasi Amerika Serikat dan Iran sempat menggelar pembicaraan di Swiss dengan mediasi Pakistan dan Qatar.
"Kami berharap semua pihak tetap berkomitmen pada jalur dialog dan diplomasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang masih tersisa," ujar Andrabi dikutip Antara.
Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia
Pakistan juga menyoroti dampak konflik terhadap situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia.
Menurut Andrabi, banyak negara, khususnya di kawasan Selatan Global, mulai merasakan dampak ketegangan tersebut terhadap pasokan energi, perdagangan internasional, hingga ketahanan pangan.
Karena itu, Pakistan berharap situasi di Selat Hormuz segera kembali normal agar keselamatan dan kebebasan pelayaran internasional tetap terjamin.
Di sisi lain, Iran menyatakan Selat Hormuz masih berada di bawah kendalinya, sementara Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kondisi ini dikhawatirkan dapat semakin meningkatkan ketegangan di kawasan.