Senin, 10 Agustus 2026

Gelombang Panas Eropa Tewaskan 14.000 Orang, Suhu Nyaris 40 Derajat Picu Lonjakan Kematian


 Gelombang Panas Eropa Tewaskan 14.000 Orang, Suhu Nyaris 40 Derajat Picu Lonjakan Kematian Seorang wanita sedang mendinginkan badan di sebuah sistem kabut pendingin saat gelombang panas di Budapest, Hongaria, Rabu (24/6/2026). ANTARA/Xinhua/David Balogh/aa.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada akhir Juni membawa dampak yang jauh lebih serius dari sekadar suhu yang menyengat. Sedikitnya 14.000 orang dilaporkan meninggal dunia di enam negara yang paling terdampak akibat lonjakan temperatur yang tidak biasa.

Para peneliti menyebut angka tersebut jauh melampaui tingkat kematian normal dan diduga kuat berkaitan langsung dengan cuaca panas ekstrem yang melanda kawasan tersebut.

Berdasarkan laporan Politico, data kematian awal dan hasil estimasi para peneliti menunjukkan lonjakan korban jiwa terjadi selama paruh kedua Juni.

Prancis mencatat sekitar 2.000 kematian dini, Belgia sekitar 1.740 orang, Jerman menjadi negara dengan jumlah korban tertinggi mencapai sekitar 6.800 orang, sementara Belanda mencatat sekitar 480 kematian.

Di negara lain, Spanyol diperkirakan mengalami sekitar 810 kematian terkait gelombang panas, sedangkan Inggris mencatat sekitar 2.200 korban jiwa dalam periode yang sama.

Menurut laporan yang dirilis pada Senin, para peneliti tidak menemukan faktor lain yang mampu menjelaskan lonjakan angka kematian tersebut. Tidak ada wabah penyakit maupun ancaman kesehatan masyarakat lain yang terjadi secara bersamaan, sehingga gelombang panas diduga menjadi penyebab utama meningkatnya angka kematian dilansir Antara.

Gelombang panas ekstrem mulai melanda sebagian besar wilayah Eropa sejak pertengahan Juni. Suhu udara di berbagai negara mendekati 40 derajat Celsius, bahkan di beberapa wilayah tercatat melampaui angka tersebut.

Pada pekan terakhir Juni, sejumlah negara Eropa juga mencatat rekor suhu tertinggi baru selama periode gelombang panas. Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran mengenai dampak perubahan iklim yang membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi dan semakin mematikan.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru