Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) Yazid Kanca Surya memberikan pemaparan dalam sebuah diskusi di Jakarta (Antara/HO/JFX)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketidakpastian ekonomi global ternyata tidak selalu membawa dampak negatif. Di tengah dinamika geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perubahan pasokan komoditas dunia, aktivitas perdagangan di Jakarta Futures Exchange (JFX) justru mengalami lonjakan signifikan.
Sepanjang Juni 2026, nilai transaksi olein di JFX menembus lebih dari Rp7,3 triliun. Sementara itu, perdagangan timah ekspor juga menunjukkan kinerja positif dengan nilai transaksi mencapai Rp2,6 triliun, mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar memanfaatkan volatilitas harga melalui mekanisme bursa.
Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX), Yazid Kanca Surya, mengatakan perubahan kondisi pasar global justru membuka peluang baru bagi pelaku usaha untuk mengelola risiko sekaligus memanfaatkan pergerakan harga.
"Perubahan harga yang terjadi justru membuka ruang bagi pelaku pasar untuk mengelola risiko sekaligus memanfaatkan peluang transaksi melalui bursa," ujar Yazid dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Transaksi Olein Naik Tiga Pekan Berturut-turut
Baca juga:
Serangan ke Iran Picu Sentimen Anti-AS, Reputasi Amerika Disebut Menurun di Indonesia dan DuniaKinerja perdagangan olein menunjukkan tren yang terus menguat sepanjang Juni. Volume transaksi meningkat selama tiga pekan berturut-turut, dari sekitar 6.200 lot pada awal bulan menjadi 27.000 lot pada pekan terakhir Juni.
Sejalan dengan kenaikan volume, nilai transaksi juga melonjak dari sekitar Rp1,3 triliun menjadi Rp2,8 triliun pada pekan terakhir. Secara keseluruhan, transaksi olein selama Juni melampaui Rp7,3 triliun.
Menurut Yazid, lonjakan tersebut tidak terlepas dari perubahan harga di pasar energi global.
Meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta kembali normalnya jalur pelayaran di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah dunia terkoreksi sekitar 10 persen. Perubahan itu kemudian ikut memengaruhi harga minyak sawit mentah (CPO) dan olein, baik di pasar internasional maupun domestik.
Perdagangan Timah Ekspor Ikut Menguat
Selain olein, perdagangan timah ekspor juga mengalami peningkatan tajam pada paruh kedua Juni.
Setelah sempat turun menjadi sekitar 300 ton pada awal periode Juni, volume transaksi melonjak menjadi 795 ton pada pekan berikutnya dan kembali meningkat menjadi 1.280 ton pada pekan 21–27 Juni 2026.
Nilai transaksinya pun ikut terdongkrak, dari sekitar Rp297 miliar, naik menjadi Rp736 miliar, hingga akhirnya mencapai sekitar Rp1,2 triliun pada pekan terakhir Juni.
Yazid menjelaskan, penguatan transaksi timah dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan global.
Di dalam negeri, peningkatan aktivitas perdagangan didorong oleh terbitnya izin Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bagi sejumlah smelter dengan volume produksi yang cukup besar.
Sementara di pasar internasional, koreksi harga timah dimanfaatkan pembeli global untuk meningkatkan pembelian pasokan dari Indonesia.
Selain itu, pasar timah dunia masih dibayangi ketatnya pasokan akibat gangguan produksi di Myanmar serta meningkatnya permintaan dari industri teknologi, termasuk sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor.
Pelaku pasar juga mulai mencermati rencana pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia yang akan berperan dalam tata kelola ekspor komoditas nasional.
Bursa Berjangka Dinilai Semakin Relevan
Yazid menilai meningkatnya transaksi selama Juni menunjukkan bahwa pelaku pasar semakin memanfaatkan bursa sebagai instrumen untuk melakukan lindung nilai (hedging) sekaligus memperoleh peluang dari perubahan harga komoditas.
Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa mekanisme perdagangan melalui bursa semakin relevan di tengah perubahan pasar global yang berlangsung cepat dan dinamis.
Emas Digital Tetap Bergerak Dinamis
Sementara itu, perdagangan emas digital di JFX juga menunjukkan pergerakan yang cukup aktif sepanjang Juni.
Produk Emas Digital Off Exchange sempat mengalami lonjakan transaksi pada pertengahan bulan sebelum kembali stabil di akhir Juni. Adapun Emas Digital On Exchange meningkat pada pekan kedua dan kemudian bergerak lebih stabil hingga akhir bulan.
"Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa masing-masing produk memiliki karakteristik yang berbeda dalam merespons perubahan sentimen pasar, sekaligus memberikan alternatif instrumen bagi pelaku usaha maupun investor sesuai kebutuhan dan strategi pengelolaan risikonya," kata Yazid.