AS Buka Peluang Investasi Baru di Indonesia, dari Energi Nuklir hingga Jasa Keuangan


 AS Buka Peluang Investasi Baru di Indonesia, dari Energi Nuklir hingga Jasa Keuangan AS Buka Peluang Investasi Baru di Indonesia, dari Energi Nuklir hingga Jasa Keuangan. (Ilustrasi Bendera AS)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Korporasi Pembiayaan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (U.S. International Development Finance Corporation/DFC) menyatakan terdapat prospek kolaborasi yang cukup besar dengan Indonesia di berbagai sektor strategis.

Kepala Bidang Kebijakan DFC, Caroline Vik, mengatakan hasil pertemuan dengan kalangan swasta di Indonesia menunjukkan peluang menarik, terutama di sektor energi nuklir dan layanan jasa keuangan.

"Pertemuan kami dengan pelaku sektor swasta mengungkapkan berbagai peluang menarik di bidang energi nuklir dan jasa keuangan," ujar Caroline Vik dalam konferensi pers daring yang diikuti dari Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Infrastruktur hingga Mineral Kritis Jadi Fokus

Selain sektor swasta, DFC juga berdiskusi dengan pemerintah Indonesia mengenai sejumlah proyek prioritas nasional. Menurut Caroline, peluang kerja sama terbuka pada pembangunan transportasi, infrastruktur, pelabuhan baru, hingga penambangan dan pengolahan mineral kritis.

DFC juga menaruh perhatian terhadap upaya Indonesia memperkuat ketahanan energi nasional. Fokus tersebut meliputi pengembangan sektor hulu energi (upstream), infrastruktur penyimpanan, serta sistem transportasi energi di sektor menengah (midstream).

DFC Perkuat Diplomasi Ekonomi Amerika Serikat

DFC merupakan lembaga pembiayaan pembangunan milik Pemerintah Amerika Serikat yang berperan penting dalam mendukung diplomasi ekonomi sekaligus investasi strategis Negeri Paman Sam di berbagai negara.

Seiring bertambahnya kewenangan dari Kongres Amerika Serikat, kapasitas investasi DFC meningkat signifikan, dari 60 miliar dolar AS menjadi 205 miliar dolar AS. Kenaikan ini memperluas ruang bagi DFC untuk mendukung proyek-proyek strategis di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara dikutip Antara.

Indonesia Masuk Agenda Strategis Kawasan

Indonesia menjadi salah satu negara yang dikunjungi Caroline Vik dalam rangkaian lawatan ke Asia Tenggara pada 19–25 Juni 2026. Selain Jakarta, ia juga mengunjungi Manila, Hanoi, Phnom Penh, Vientiane, dan Kuala Lumpur.

Selama kunjungan tersebut, Caroline bertemu dengan pejabat pemerintah dan pelaku usaha guna memperkuat kemitraan ekonomi strategis, meningkatkan keamanan ekonomi kawasan, serta menjajaki peluang investasi pada sektor energi, teknologi, mineral kritis, keamanan rantai pasok, farmasi, hingga infrastruktur digital.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru