Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning. ANTARA/Desca Lidya Natalia.
BEIJING, ARAHKITA.COM – Ketegangan diplomatik terkait Kuba kembali menjadi sorotan dunia. Pemerintah China mendesak Amerika Serikat segera menghentikan embargo, blokade, serta berbagai bentuk tekanan terhadap Kuba yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade. Menurut Beijing, kebijakan tersebut telah memberikan dampak serius terhadap kehidupan masyarakat Kuba dan memicu kekhawatiran masyarakat internasional.
Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers harian di Beijing, Senin. Ia menegaskan bahwa China akan terus mendukung Kuba dalam mempertahankan kedaulatan nasional serta menolak segala bentuk campur tangan dari pihak luar.
Mao menyampaikan pernyataan tersebut saat menanggapi pernyataan Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel yang sebelumnya menyebut embargo Amerika Serikat telah membawa tekanan ekonomi dan sosial ke tingkat yang "tidak tertahankan", bahkan menyamakannya dengan "genosida". Pemerintah Kuba juga meminta digelarnya sidang khusus Majelis Umum PBB pada 7 Juli untuk membahas situasi tersebut.
Baca juga:
Singapura Gandeng China Perkuat Transisi Hijau, AI, hingga Solusi untuk Masyarakat LansiaMenurut Mao, blokade dan sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat selama lebih dari 60 tahun telah menyebabkan penderitaan mendalam bagi rakyat Kuba.
Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir, Washington dinilai kembali memperketat berbagai kebijakan pembatasan yang berdampak langsung terhadap kebutuhan dasar masyarakat dikutip Antara.
China juga menegaskan penolakannya terhadap sanksi sepihak yang dinilai tidak memiliki dasar dalam hukum internasional. Beijing mendesak Amerika Serikat menghentikan kebijakan yang dianggap menghambat hak rakyat Kuba untuk hidup dan berkembang.
Selain itu, China kembali menegaskan komitmennya untuk terus mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan nasional serta menolak intervensi dari pihak luar. Beijing juga menyatakan siap bekerja sama dengan berbagai negara untuk mendorong terciptanya keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hukum internasional di tingkat global.
Sikap tersebut kembali menunjukkan posisi konsisten China dalam isu Kuba, sekaligus mempertegas perbedaan pandangan Beijing dan Washington terkait kebijakan embargo yang hingga kini masih menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan internasional.