Orang-orang mendinginkan diri di dalam air di tengah gelombang panas di sebuah taman di Madrid, Spanyol, 24 Mei 2026. ANTARA/XInhua/Gustavo Valiente
MADRID, ARAHKITA.COM – Gelombang panas yang melanda Spanyol kembali memakan korban jiwa. Dalam beberapa hari pertama Juli 2026 saja, lebih dari 150 orang dilaporkan meninggal dunia akibat suhu yang sangat tinggi. Kondisi cuaca ekstrem ini juga memperparah kebakaran hutan di sejumlah wilayah dan memicu kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Data dari Sistem Pemantauan Kematian Harian (MoMo) Kementerian Kesehatan Spanyol yang dirilis pada Senin (6/7/2026) menunjukkan lonjakan kematian seiring berlangsungnya gelombang panas resmi kedua pada musim panas tahun ini.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Jumlah korban pada awal Juli menambah panjang daftar kematian akibat cuaca panas di Spanyol. Sebelumnya, MoMo memperkirakan sebanyak 1.029 orang meninggal akibat suhu ekstrem sepanjang Juni 2026.
Angka tersebut menjadi jumlah kematian bulanan tertinggi yang pernah tercatat sejak sistem pemantauan MoMo mulai beroperasi pada 2015. Data itu menunjukkan besarnya dampak suhu ekstrem terhadap kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis.
Kebakaran Hutan Meluas
Di saat yang sama, petugas pemadam kebakaran masih berjibaku memadamkan api di berbagai wilayah Spanyol.
Salah satu kebakaran terbesar terjadi di kawasan La Bisbal d'Emporda, yang telah menghanguskan sekitar 2.200 hektare kawasan lindung Les Gavarres. Area kebakaran tersebut memiliki perimeter mencapai sekitar 40 kilometer, sehingga menyulitkan proses pemadaman.
Puluhan Ribu Hektare Lahan Terbakar
Berdasarkan estimasi satelit dari European Forest Fire Information System (EFFIS), kebakaran hutan dan lahan telah membakar sekitar 56.000 hektare wilayah di Spanyol sejak awal 2026 dikutip Antara.
Luas area yang terdampak menunjukkan bahwa musim panas tahun ini menjadi salah satu yang paling berat dalam beberapa tahun terakhir. Cuaca panas berkepanjangan, kelembapan yang rendah, serta angin kencang menjadi kombinasi yang mempercepat penyebaran api di berbagai daerah.
Gelombang panas yang terus berulang tidak hanya meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, tetapi juga memperbesar ancaman kebakaran hutan yang berdampak pada lingkungan, ekonomi, dan aktivitas warga di berbagai wilayah Spanyol.