Masyarakat menyaksikan atraksi pesawat dalam perayaan Hari Kemerdekaan ke-55 Singapura, di Singapura, Minggu (9/8/2020). ANTARA FOTO/Xinhua- Then Chih Wey/hp.
SINGAPURA, ARAHKITA.COM – Hubungan Singapura dan China memasuki babak baru. Kedua negara kini berupaya memperdalam kolaborasi di berbagai sektor strategis, mulai dari transisi energi hijau, pengembangan kecerdasan buatan (AI), hingga menghadapi tantangan masyarakat yang semakin menua.
Kerja sama ini dinilai penting untuk menciptakan solusi yang tidak hanya bermanfaat bagi kedua negara, tetapi juga kawasan Asia.Komitmen tersebut disampaikan Menteri Pembangunan Nasional Singapura, Chee Hong Tat, saat berbicara dalam Singapore-China Forum 2026 pada Senin (6/7/2026).
Menurut Chee, China telah berkembang menjadi salah satu pemimpin dunia dalam pengembangan energi terbarukan dan teknologi energi bersih. Pengalaman negara tersebut dinilai sangat berharga bagi upaya kawasan dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mempercepat dekarbonisasi.
Ia menyoroti kemampuan China dalam mengembangkan tenaga surya, tenaga angin, serta sistem penyimpanan energi berbasis baterai yang dapat menjadi referensi bagi negara-negara lain.
"Ada banyak hal yang dapat kami pelajari dari pengalaman China dalam menerapkan dan mengembangkan solusi energi bersih. Di sisi lain, Singapura juga dapat berbagi pengalaman dalam perencanaan kota berkelanjutan dan pembangunan yang terintegrasi. Bersama-sama, kami dapat menciptakan solusi praktis yang mendukung target iklim sekaligus memberi manfaat bagi kawasan," ujar Chee.
AI dan Teknologi Jadi Fokus Kerja Sama
Selain energi hijau, kerja sama juga akan diperluas ke bidang kecerdasan buatan (AI), robotika, dan manufaktur cerdas.
Chee menilai China telah menunjukkan bagaimana teknologi dapat diterapkan secara masif di berbagai sektor, seperti konstruksi, logistik, hingga pengelolaan infrastruktur perkotaan. Pengalaman tersebut dinilai mampu memberikan inspirasi bagi Singapura dalam meningkatkan produktivitas melalui inovasi.
Menurutnya, kolaborasi yang melibatkan pemerintah, pelaku industri, dan kalangan akademisi akan mempercepat lahirnya solusi teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
"Melalui pertukaran yang lebih mendalam antara pemerintah, industri, dan akademisi, kita dapat mengubah ide-ide inovatif menjadi solusi nyata sekaligus memastikan kemajuan teknologi tetap berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat," katanya dikutip Antara.
Belajar Menghadapi Tantangan Populasi Lansia
Tak hanya soal teknologi, kedua negara juga menghadapi tantangan yang sama, yakni meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
Singapura memiliki pengalaman dalam membangun kawasan hunian yang ramah lansia, sementara China mengembangkan sistem perawatan lansia berbasis gotong royong atau mutual-aid. Kedua pendekatan tersebut dinilai dapat saling melengkapi.
Chee mengatakan masih banyak ruang bagi kedua negara untuk saling bertukar pengalaman, mulai dari merancang lingkungan yang mendukung usia panjang, memanfaatkan teknologi agar lansia dapat hidup lebih mandiri, hingga memperkuat ikatan sosial di masyarakat.
Forum yang Mempererat Hubungan Singapura-China
Singapore-China Forum pertama kali diluncurkan pada 2017 dan diselenggarakan oleh Lianhe Zaobao. Forum ini menjadi ajang pertemuan para pemimpin pemerintahan, pelaku bisnis, dan akademisi dari kedua negara untuk membahas berbagai isu strategis yang menjadi kepentingan bersama.
Sejak digelar perdana, forum tersebut telah berlangsung di Singapura maupun sejumlah kota besar di China dan terus menjadi wadah memperkuat hubungan bilateral di tengah tantangan global yang terus berkembang.