Loading
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat anjlok lebih dari 90 persen selama perang AS/Israel-Iran yang berlangsung sekitar 100 hari. Anadolu Agency/pri.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Harga minyak dunia kembali menguat dan menembus level psikologis 80 dolar AS per barel pada Jumat (19/6/2026). Kenaikan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah setelah perundingan yang direncanakan antara Amerika Serikat dan Iran dibatalkan.
Minyak mentah Brent tercatat diperdagangkan di kisaran 80,11 dolar AS per barel pada pukul 07.00 GMT. Penguatan harga terjadi ketika para pelaku pasar menilai risiko ketidakpastian pasokan energi global masih tinggi, meskipun lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Sentimen pasar berubah setelah pemerintah Swiss mengonfirmasi bahwa pembicaraan yang sedianya mempertemukan perwakilan Amerika Serikat dan Iran di Burgenstock tidak jadi dilaksanakan sesuai jadwal.
Kementerian Luar Negeri Swiss menjelaskan pembatalan terjadi setelah Gedung Putih mengumumkan bahwa Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, tidak akan menghadiri pertemuan tersebut. Alasannya, sejumlah aspek teknis dan logistik dalam pembahasan dengan Iran masih belum mencapai kesepakatan.
Batalnya agenda diplomatik itu memunculkan kembali keraguan mengenai keberlanjutan proses dialog kedua negara. Investor khawatir ketegangan yang sempat mereda dapat kembali meningkat dan berdampak pada stabilitas pasokan minyak global.
Di saat yang sama, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah juga kembali menjadi sorotan. Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan serangan udara dan artileri Israel di Kota Nabatieh serta wilayah sekitarnya menewaskan sedikitnya 24 orang dan melukai sejumlah warga lainnya pada Jumat dini hari.
Perkembangan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi meluasnya konflik regional yang dapat mengganggu rantai pasok energi dunia.Meski demikian, kenaikan harga minyak masih tertahan oleh membaiknya kondisi pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pencabutan pembatasan lalu lintas menuju dan dari pelabuhan maupun perairan pesisir Iran. Langkah ini dinilai membantu memulihkan arus perdagangan energi yang sebelumnya terganggu akibat ketegangan militer.
Sementara itu, Pusat Informasi Maritim Gabungan menyarankan kapal--kapal yang melintasi Selat Hormuz untuk mengambil jalur lebih dekat ke pesisir Oman guna meminimalkan risiko ancaman ranjau laut dikutip Antara.
Sejumlah kapal tanker yang sebelumnya tertahan di kawasan tersebut mulai kembali beroperasi dan meninggalkan jalur perairan strategis itu pada Kamis. Di sisi lain, Kuwait juga menyatakan siap meningkatkan produksi minyak guna membantu menjaga stabilitas pasokan global.
Perbaikan arus pengiriman energi ini menjadi faktor yang membatasi lonjakan harga minyak lebih lanjut. Bahkan, sebagian besar kenaikan harga yang sempat terjadi sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari kini mulai terpangkas.
Meski Brent kembali berada di atas level 80 dolar AS per barel, pasar minyak masih berada dalam tren pelemahan mingguan yang cukup tajam. Investor kini menunggu perkembangan terbaru terkait diplomasi AS-Iran serta situasi keamanan di Timur Tengah yang akan menjadi penentu arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan.