Trump Klaim Negara G7 Siap Kirim Pasukan Amankan Selat Hormuz


 Trump Klaim Negara G7 Siap Kirim Pasukan Amankan Selat Hormuz Arsip - Presiden AS Donald Trump berjalan menuju Marine One sebelum diterbangkan ke Dover, Delaware, 18 Maret 2026, di Washington DC, Amerika Serikat. (Anadolu/pri)
WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G7) telah menyatakan kesiapan untuk mengirim pasukan guna membantu mengamankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.

Dalam keterangannya kepada wartawan pada Rabu (17/6/2026), Trump menyebut bahwa para anggota G7 kini menunjukkan keinginan untuk terlibat langsung dalam upaya pengamanan kawasan tersebut.

“Mereka semua ingin melakukannya. Semuanya ingin terlibat sekarang, bukan ketika perang sedang berlangsung,” ujar Donald Trump.

Trump juga menyinggung pernyataan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang disebut menunjukkan kesiapan Inggris untuk ikut serta dalam upaya pengamanan Selat Hormuz.

Selain Inggris, Jepang juga dilaporkan telah menyatakan dukungan terhadap langkah tersebut, meski belum dirinci bentuk keterlibatan yang akan diberikan.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menjadi penghubung utama distribusi minyak global, sehingga setiap ketegangan di wilayah tersebut kerap memicu kekhawatiran internasional.

Di sisi lain, Trump turut menyinggung perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Ia menyebut kedua negara telah menyelesaikan penyusunan nota kesepahaman (MoU) yang rencananya akan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni.

Kesepakatan tersebut disebut membuka jalan bagi perundingan selama 60 hari antara kedua pihak untuk mencapai kesepakatan final terkait program nuklir Iran serta isu sanksi yang diberlakukan oleh AS.

Langkah diplomatik ini menjadi bagian dari upaya menurunkan ketegangan di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi perhatian dunia internasional.

Meski demikian, perkembangan situasi di Selat Hormuz dan dinamika negosiasi Iran–AS diperkirakan masih akan menjadi sorotan utama dalam beberapa waktu ke depan.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru