Loading
Presiden Iran Masoud Pezeshkian ANTARA
Meski demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa kesepakatan final belum tercapai dan Teheran tetap menyiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan ke depan.
"Apa yang telah disepakati menjadi sebuah langkah penting menuju penghentian perang dan awal negosiasi, dan kesepakatan akhir masih belum terwujud. Republik Islam Iran telah mempersiapkan diri untuk semua opsi," tulis Pezeshkian melalui akun media sosial X Senin (15/6/2026).
Menurutnya, pemerintah Iran akan tetap menjalankan tugas dan melayani masyarakat tanpa bergantung pada hasil akhir perundingan dengan Washington.
Baca juga:
AS dan Iran Teken MoU Secara Elektronik untuk Akhiri Perang, Kesepakatan Resmi Dijadwalkan di SwissPezeshkian juga menyoroti peran Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam proses penyusunan memorandum tersebut. Ia menilai arahan dari pemimpin tertinggi memiliki kontribusi besar dalam memastikan kepentingan nasional Iran tetap terlindungi.
"Komando Pemimpin Tertinggi yang terhormat memiliki peran terbesar dalam memasukkan klausul untuk melindungi kepentingan nasional Iran dan kami berterima kasih kepadanya," ujarnya.
Sebelumnya, pada Senin malam (15/6/2026), Iran dan Amerika Serikat secara resmi mengonfirmasi telah menyelesaikan memorandum kesepahaman yang dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6/2026).
Berdasarkan keterangan pihak Iran, dokumen tersebut mencakup penghentian operasi militer di berbagai front, termasuk di Lebanon, sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan kawasan.
Baca juga:
Redam Ketegangan, Presiden Masoud Pezeshkian Perintahkan Pemulihan Total Internet di IranPresiden AS Donald Trump juga telah mengonfirmasi bahwa memorandum tersebut pada prinsipnya telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Setelah penandatanganan resmi dilakukan, Iran dan AS akan memasuki tahap negosiasi lanjutan untuk membahas kesepakatan final. Perundingan tersebut akan mencakup isu program nuklir Iran, mekanisme pengawasan internasional, serta kemungkinan penyesuaian kebijakan sanksi yang selama ini diberlakukan Washington terhadap Teheran.
Kesepakatan awal ini dipandang sebagai perkembangan penting dalam hubungan kedua negara yang selama bertahun-tahun diwarnai ketegangan politik, ekonomi, dan keamanan. Namun, sejumlah pihak menilai proses menuju perjanjian permanen masih akan menghadapi tantangan yang tidak ringan.