Dunia Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran, Eropa hingga Asia Optimistis Konflik Segera Berakhir. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kesepakatan damai yang dicapai Amerika Serikat dan Iran mendapat sambutan luas dari berbagai negara. Sejumlah pemimpin dunia menilai langkah tersebut sebagai momentum penting untuk meredakan ketegangan geopolitik yang selama berbulan-bulan memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan ekonomi global.
Empat negara besar Eropa, yakni Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia, secara bersama-sama menyatakan dukungan terhadap kesepakatan yang diumumkan pada Minggu (15/6/2026).
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin negara tersebut menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Namun, mereka juga menyatakan kesiapan untuk mencabut berbagai sanksi apabila Teheran mengambil langkah-langkah yang jelas dan dapat diverifikasi terkait program nuklirnya.
Baca juga:
ASEAN Desak AS dan Iran Tahan Eskalasi, Khawatir Upaya Perdamaian Timur Tengah Gagal TotalNegara-negara Eropa itu mendesak agar kesepakatan yang telah dicapai dapat segera diimplementasikan secara menyeluruh. Mereka juga menyoroti pentingnya pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Menurut mereka, kebebasan navigasi tanpa hambatan di Selat Hormuz sangat penting untuk menjaga kestabilan perdagangan internasional dan pasokan energi global.
Selain itu, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan Amerika Serikat, Iran, serta negara-negara kawasan guna menjaga momentum diplomasi yang telah tercipta dan mendorong tercapainya penyelesaian jangka panjang dikutip Antara.
Penandatanganan Resmi Dijadwalkan di Swiss
Baca juga:
Utusan Khusus AS Steve Witkoff Bertolak ke Swiss, Perundingan Nuklir Amerika-Iran Bersiap DimulaiSebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengungkapkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan setelah melalui proses negosiasi intensif.
Melalui unggahannya di media sosial X, Sharif menyebut penandatanganan resmi kesepakatan dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni 2026 di Swiss.
Tak lama kemudian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi kabar tersebut melalui platform Truth Social.
Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah rampung. Ia juga mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya serta pencabutan blokade Angkatan Laut AS yang sebelumnya diberlakukan akibat konflik.
Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa kedua negara mulai memasuki fase baru hubungan yang lebih konstruktif setelah periode ketegangan yang panjang.
Malaysia: Diplomasi adalah Jalan Terbaik
Dukungan serupa datang dari Malaysia. Pemerintah Malaysia menyambut baik Nota Kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai sebagai langkah penting menuju deeskalasi konflik di Asia Barat.
Melalui Kementerian Luar Negeri Malaysia atau Wisma Putra, Kuala Lumpur menyampaikan apresiasi kepada sejumlah negara yang turut berperan dalam proses diplomasi, termasuk Pakistan, Qatar, Mesir, Arab Saudi, dan Türkiye.
Malaysia juga mengapresiasi kemauan politik yang ditunjukkan seluruh pihak untuk meredakan ketegangan dan membangun stabilitas kawasan.
Pemerintah Malaysia berharap perundingan lanjutan setelah penandatanganan MoU dapat menghasilkan kesepakatan final yang berkelanjutan. Beberapa agenda yang akan menjadi fokus antara lain pengaturan keamanan maritim, pelonggaran sanksi secara bertahap, serta langkah-langkah pembangunan kepercayaan.
Menurut Malaysia, implementasi kesepakatan tersebut berpotensi memperkuat keamanan energi global, menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, dan mendorong pertumbuhan ekonomi dunia.
Malaysia kembali menegaskan keyakinannya bahwa perdamaian yang langgeng hanya dapat dicapai melalui dialog, diplomasi, dan sikap saling menghormati antarnegara.
Jepang Sebut Langkah Besar Menuju Perdamaian
Sementara itu, Jepang juga memberikan respons positif terhadap perkembangan terbaru tersebut.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut kesepakatan AS-Iran sebagai langkah besar menuju perdamaian dan hasil dari proses negosiasi yang panjang serta penuh kesabaran.
Dalam pernyataannya, Takaichi menilai tercapainya kesepakatan akan membantu mengurangi ketidakpastian yang selama ini membayangi perekonomian global.
Pemerintah Jepang secara khusus menaruh perhatian pada pembukaan kembali Selat Hormuz karena negara itu sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.
Juru Bicara Pemerintah Jepang Minoru Kihara mengatakan implementasi yang konsisten dari nota kesepahaman tersebut diharapkan dapat menjamin jalur pelayaran yang aman dan bebas, sekaligus mengurangi risiko ekonomi bagi Jepang maupun dunia.
Selama konflik berlangsung, Jepang terpaksa mencari sumber pasokan energi alternatif untuk menjaga kebutuhan domestiknya. Karena itu, stabilitas di Selat Hormuz menjadi faktor penting bagi keamanan energi negara tersebut.
Harapan Baru bagi Stabilitas Global
Dukungan yang datang dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah menunjukkan besarnya harapan masyarakat internasional terhadap keberhasilan kesepakatan damai AS-Iran.
Jika seluruh tahapan implementasi berjalan sesuai rencana, pembukaan kembali Selat Hormuz dan normalisasi hubungan kedua negara berpotensi membawa dampak positif bagi perdagangan global, keamanan energi, serta stabilitas geopolitik dunia.
Kini perhatian dunia tertuju pada penandatanganan resmi yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni mendatang, yang diharapkan menjadi awal dari babak baru perdamaian di kawasan yang selama ini menjadi pusat ketegangan internasional.