Satu Tahun Kecelakaan Air India: Duka Belum Usai, Keluarga Korban Gelar Doa Bersama


 Satu Tahun Kecelakaan Air India: Duka Belum Usai, Keluarga Korban Gelar Doa Bersama Satu Tahun Kecelakaan Air India: Duka Belum Usai, Keluarga Korban Gelar Doa Bersama. (Ilustrasi AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Setahun telah berlalu sejak kecelakaan tragis Air India Flight 171 mengguncang India dan dunia penerbangan internasional. Namun bagi keluarga korban, waktu ternyata belum mampu menghapus rasa kehilangan maupun pertanyaan besar tentang penyebab pasti bencana tersebut.

Pada peringatan satu tahun tragedi itu, keluarga korban menggelar doa bersama, malam renungan, dan berbagai kegiatan peringatan di sejumlah kota di India maupun luar negeri. Mereka mengenang orang-orang tercinta yang menjadi korban dalam salah satu kecelakaan penerbangan paling mematikan dalam sejarah India.

Pesawat Air India tujuan London itu jatuh hanya beberapa detik setelah lepas landas dari Ahmedabad pada 12 Juni 2025. Pesawat kemudian menghantam kompleks perguruan tinggi kedokteran dan menewaskan 260 orang, terdiri dari 241 penumpang dan awak pesawat serta 19 warga yang berada di darat. Dari seluruh penumpang, hanya satu orang yang berhasil selamat.

Hingga kini, penyebab kecelakaan tersebut masih menjadi misteri. Para penyelidik menyatakan bahwa seluruh bukti yang berhasil dikumpulkan masih dianalisis secara menyeluruh sebelum laporan akhir dipublikasikan.

Menteri Penerbangan Sipil India, Ram Mohan Naidu, menegaskan bahwa investigasi dilakukan secara profesional dan objektif. Pemerintah, kata dia, berkomitmen mengungkap penyebab kecelakaan sekaligus memperkuat standar keselamatan penerbangan di masa depan.

Luka yang Belum Sembuh

Di Ahmedabad, bekas lokasi kecelakaan masih menyisakan jejak kehancuran. Area tersebut tetap dikordon dan kini dipenuhi bunga, foto korban, serta pesan-pesan yang ditinggalkan keluarga sebagai bentuk penghormatan.

Salah satu kisah yang paling menyentuh datang dari keluarga Akash Patni, bocah berusia 12 tahun yang meninggal saat pesawat jatuh di dekat warung teh milik keluarganya.

Pada peringatan satu tahun tragedi tersebut, keluarga Akash berkumpul di lokasi kejadian. Foto sang bocah dihiasi karangan bunga, sementara kelopak mawar tersebar di sekelilingnya.

Ibunya, Sitaben, yang mengalami luka bakar serius saat kecelakaan terjadi, kembali menginjakkan kaki di lokasi untuk pertama kalinya sejak tragedi itu. Bersama anggota keluarga lain, ia melantunkan doa dan nyanyian keagamaan Hindu sambil beberapa kali tak kuasa menahan tangis.

Menunggu Kebenaran yang Belum Datang

Di berbagai wilayah India, suasana serupa juga terlihat. Keluarga korban terus mengenang orang-orang yang mereka cintai sambil berharap suatu hari nanti mendapatkan jawaban yang jelas.

Dilaporkan dan dikutip dari BBC, banyak keluarga korban mengaku peringatan satu tahun ini menjadi momen yang sangat berat. Meski waktu terus berjalan, rasa kehilangan dan kesedihan mereka belum juga berkurang.

Di Ahmedabad, keluarga Thakur menggelar doa bersama untuk mengenang Sarlaben Thakur dan putrinya yang masih berusia dua tahun, Aadhya. Keduanya tewas ketika pesawat menghantam kompleks asrama kampus.

Menurut keluarga, 12 Juni kini menjadi tanggal yang selalu mengingatkan mereka pada hari paling kelam dalam hidup mereka. Bahkan mereka memilih menyingkirkan jam-jam dari rumah karena setiap kali melihat waktu, mereka teringat kepanikan saat mencari keberadaan anggota keluarga di rumah sakit dan kamar jenazah setelah kecelakaan terjadi.

Meski hidup dengan keterbatasan ekonomi, keluarga tersebut tetap menyediakan makanan bagi para kerabat dan tetangga yang datang untuk berdoa bersama.

"Kami berharap kegiatan ini bisa membawa ketenangan bagi semua orang, setidaknya untuk sementara waktu," ujar Uma Thakur, salah satu anggota keluarga.

Barang-Barang yang Menjadi Kenangan Terakhir

Di negara bagian Maharashtra, keluarga pramugari Maithili Patil juga mengadakan acara peringatan sederhana.

Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika tas milik Maithili akhirnya dikembalikan kepada keluarga sembilan bulan setelah kecelakaan. Dalam acara doa tersebut, tas dan sejumlah barang pribadi miliknya dipajang sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Bagi keluarganya, benda-benda tersebut menjadi pengingat bahwa Maithili pernah hadir dan menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.

Namun seperti keluarga korban lainnya, mereka masih menunggu hasil investigasi resmi.

"Anak perempuan saya tidak akan pernah kembali. Saya hanya ingin mengetahui kebenaran tentang penyebab kecelakaan ini," kata ibunya, Pramila Patil.

Penyintas Tunggal Juga Masih Menanggung Trauma

Kecelakaan Air India Flight 171 hanya menyisakan satu orang yang selamat, yakni Vishwash Kumar Ramesh.

Dalam pernyataan yang disampaikannya setahun setelah tragedi tersebut, ia mengaku masih berjuang menghadapi trauma psikologis yang mendalam. Selain selamat dari maut, ia juga harus menerima kenyataan pahit kehilangan saudara laki-lakinya dalam kecelakaan itu.

Menurut Vishwash, keluarga korban berhak mendapatkan penjelasan yang jujur dan transparan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada hari nahas tersebut.

"Tidak ada yang bisa mengubah apa yang telah terjadi. Tetapi keluarga korban berhak mendapatkan kejelasan," ujarnya.

Sementara penyelidikan terus berjalan, satu tahun setelah tragedi Air India Flight 171, harapan keluarga korban tetap sama: menemukan kebenaran yang selama ini mereka tunggu, sekaligus memastikan tragedi serupa tidak kembali terulang di masa depan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru