Loading
Pesawat kargo militer Jerman. ANTARA/Anadolu/as/am.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Jerman berkomitmen mempercepat penguatan kemampuan militernya melalui peningkatan anggaran pertahanan dan modernisasi peralatan tempur di tengah kekhawatiran terhadap ancaman keamanan yang berasal dari Rusia.
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, mengatakan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan daya tangkal militer sekaligus memperkuat posisi Jerman dalam aliansi NATO.
“Kami terpaksa mengeluarkan lebih banyak uang sebagai akibat dari ancaman keamanan, yakni ancaman yang ditimbulkan oleh Rusia,” kata Boris Pistorius kepada wartawan di sela peringatan Hari Angkatan Bersenjata Jerman di Neubiberg, Jerman selatan, Sabtu (6/6/2026).
Pistorius menegaskan bahwa pemerintah saat ini mempercepat proses pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) agar pasukan memiliki perlengkapan terbaik dalam menjalankan tugas.
“Prajurit yang bertugas memastikan Bundeswehr memiliki daya tangkal dan yang harus membela kami jika situasi memburuk berhak mendapatkan peralatan terbaik serta pelatihan terbaik,” ujarnya.
Menurutnya, percepatan belanja pertahanan dilakukan agar militer Jerman mampu menghadapi berbagai potensi ancaman keamanan di masa mendatang.
Berlin juga menargetkan memainkan peran lebih besar dalam sistem pertahanan NATO. Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, Jerman ingin menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas keamanan kawasan.
“Kami bekerja sangat keras agar Bundeswehr dapat mengembangkan kemampuan pencegahan penuhnya dan, sebagai mitra terbesar NATO di Eropa, memainkan peran sentral dalam kemampuan pertahanan aliansi,” kata Pistorius.
Sebelumnya, pada April lalu, Jerman meluncurkan strategi militer baru yang bertujuan menjadikan Bundeswehr sebagai kekuatan militer konvensional terkuat di Eropa pada 2039.
Strategi tersebut mencakup peningkatan jumlah personel aktif, pasukan cadangan, serta pegawai sipil yang mendukung operasional militer.
“Tujuan kami adalah memiliki sedikitnya 460.000 personel siap tempur yang terdiri atas pasukan aktif dan cadangan,” ujar Pistorius.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya jangka panjang Jerman untuk meningkatkan kesiapan pertahanan sekaligus memperkuat kontribusinya dalam menjaga keamanan kawasan Eropa di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.