Loading
Presiden Amerika Serikat AS Donald Trump berbicara kepada pers di South Lawn G
WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak memberikan jawaban tegas terkait kemungkinan Washington menangkap mantan Presiden Kuba Raul Castro seperti tindakan yang dilakukan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
“Saya tidak ingin mengatakan itu,” ujar Trump kepada wartawan saat ditanya mengenai kemungkinan penangkapan Raul Castro, Rabu (20/5/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS Todd Blanche mengumumkan dakwaan terhadap Raul Castro terkait dugaan konspirasi pembunuhan warga negara Amerika Serikat.
Menurut Blanche, pemerintah AS berharap Castro dapat hadir di pengadilan Amerika Serikat secara sukarela atau “dengan cara lain”.
Raul Castro didakwa atas sejumlah tuduhan serius, termasuk konspirasi pembunuhan warga Amerika, penghancuran pesawat, serta empat dakwaan pembunuhan terkait insiden penembakan dua pesawat sipil pada 1996.
Kasus tersebut menjadi bagian dari meningkatnya tekanan pemerintahan Trump terhadap Kuba dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintah AS sebelumnya juga menerapkan tarif terhadap impor dari negara-negara pemasok minyak ke Kuba dan menetapkan status darurat nasional atas dugaan ancaman Kuba terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.
Pemerintah Kuba menilai langkah Washington sebagai upaya untuk memperburuk krisis ekonomi di negara tersebut melalui embargo energi.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel Bermudez bahkan menyebut ancaman militer Amerika Serikat terhadap negaranya telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Aggresi terhadap Kuba akan dibalas dengan tekad rakyat untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan,” kata Diaz-Canel.
Selain dakwaan terhadap Raul Castro, AS juga menjatuhkan sanksi terhadap konglomerat militer Kuba, GAESA, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi negara tersebut.
Grupo de Administración Empresarial S.A. (GAESA) dibentuk pada 1995 oleh Raul Castro untuk menopang pendapatan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba di tengah krisis ekonomi pasca runtuhnya Uni Soviet.
Meski ketegangan meningkat, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak menginginkan eskalasi konflik dengan Kuba.
“Tidak akan ada eskalasi. Saya rasa itu tidak diperlukan,” kata Trump.