Loading
Arsip - Presiden China Xi Jinping (kanan) berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan di Busan, Korea Selatan, 30 Oktober 2025. (ANTARA FOTO/Xinhua/Huang Jingwen/tom/pri.)
BEIJING, ARAHKITA.COM — Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menggelar pembicaraan penting terkait hubungan bilateral kedua negara hingga isu perdamaian dunia dalam kunjungan kenegaraan Trump ke China pekan ini.
Pertemuan tersebut dipandang menjadi salah satu agenda diplomatik yang cukup dinantikan dunia internasional, mengingat hubungan China dan Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir kerap diwarnai dinamika politik, ekonomi, hingga persaingan geopolitik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan Xi Jinping akan berdiskusi secara mendalam dengan Donald Trump mengenai berbagai isu strategis, termasuk masa depan hubungan kedua negara serta stabilitas global.
Baca juga:
Ledakan Tambang Batu Bara di Tiongkok Tewaskan 82 Orang, Operasi Penyelamatan Masih Berlangsung“Presiden Xi Jinping akan melakukan pertukaran pandangan secara mendalam dengan Presiden Donald Trump mengenai isu penting terkait hubungan China dan AS, serta perdamaian dan pembangunan dunia,” kata Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin (11/5/2026).
Pemerintah China juga menegaskan kesiapan mereka untuk memperluas kerja sama dengan Amerika Serikat sekaligus mengelola berbagai perbedaan yang selama ini menjadi tantangan dalam hubungan kedua negara.
Menurut Guo, Beijing berharap komunikasi tingkat tinggi tersebut dapat membawa stabilitas dan kepastian yang lebih besar di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.
Kementerian Luar Negeri China menyebut Donald Trump akan menjalani kunjungan kenegaraan ke China pada 13 hingga 15 Mei 2026. Agenda kunjungan itu diperkirakan mencakup pembahasan ekonomi, keamanan global, hingga peluang kerja sama strategis antara dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Pertemuan Xi dan Trump pun menjadi perhatian banyak negara karena hasil pembicaraan keduanya diyakini dapat memengaruhi arah politik dan ekonomi global ke depan.