Loading
Ayatollah Mojtaba Khamenei ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi Iran. Dia merupakan sosok yang dibenci AS. (Foto:Tasnim News/SindoNews)
HAMILTON, KANADA, ARAHKITA.COM – Nama Mojtaba Khamenei kembali menjadi sorotan internasional setelah laporan intelijen Amerika Serikat menyebut dirinya masih terlibat aktif dalam penyusunan strategi perang dan jalur negosiasi Iran dengan AS.Meski belum muncul di hadapan publik sejak konflik memanas, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru itu disebut tetap menjalankan komunikasi penting dari balik masa pemulihannya.
Laporan CNN pada Jumat (8/5/2026) mengungkapkan bahwa badan intelijen AS menilai Mojtaba Khamenei masih memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan strategis Iran, terutama terkait respons militer dan diplomasi terhadap Amerika Serikat.
Namun, laporan tersebut juga menegaskan bahwa masih ada ketidakpastian mengenai seberapa besar kewenangan Mojtaba dalam struktur kekuasaan Iran pasca-serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan sejumlah pejabat penting Iran, termasuk ayahnya, Ali Khamenei.
Menurut sumber yang mengetahui penilaian intelijen AS, Mojtaba tetap berkomunikasi melalui utusan terpercaya dan sejumlah pertemuan langsung terbatas selama menjalani pemulihan cedera. Ia dikabarkan mengalami luka bakar dan cedera akibat serpihan peluru dalam rangkaian serangan yang terjadi sebelumnya.
Walau demikian, pemerintah Iran terus berupaya meredam spekulasi mengenai kondisi kesehatan sang pemimpin.
Kepala protokol kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Mazaher Hosseini, pada Jumat menyatakan bahwa kondisi Mojtaba Khamenei menunjukkan perkembangan positif dilansir Antara.
Ia juga membantah berbagai rumor yang berkembang terkait memburuknya kesehatan pemimpin Iran tersebut.
Di tengah situasi politik dan keamanan yang belum stabil, laporan intelijen AS juga menyebut kemampuan militer Iran memang mengalami pelemahan akibat serangan AS. Meski begitu, kekuatan militer negara tersebut dinilai belum lumpuh sepenuhnya.
Beberapa instalasi peluncur rudal Iran disebut masih aktif dan dapat digunakan sewaktu-waktu.Sementara itu, pemerintahan Iran sehari-hari disebut lebih banyak dijalankan oleh pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersama Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Mereka diyakini memegang peran penting dalam menjaga stabilitas pemerintahan sekaligus melanjutkan jalur diplomasi dengan Washington di tengah ketegangan kawasan yang terus meningkat.
Perkembangan situasi ini membuat dunia internasional terus memantau arah kebijakan Iran, terutama terkait kemungkinan eskalasi konflik baru di Timur Tengah maupun peluang tercapainya kesepakatan diplomatik dengan Amerika Serikat.