AS Desak Jepang dan Sekutu Buka Kembali Selat Hormuz di Tengah Ketegangan Iran


 AS Desak Jepang dan Sekutu Buka Kembali Selat Hormuz di Tengah Ketegangan Iran Sejumlah demonstran membawa plakat yang berisi seruan mengakhiri perang saat ikut berunjuk rasa Hari Buruh di Los Angeles, California, Amerika Serikat, Jumat (1/5/2026). /ANTARA/Xinhua/Qiu Chen/aa.

TOKYO, ARAHKITA.COM – Pemerintah Amerika Serikat kembali mendesak sejumlah sekutu utama, termasuk Jepang dan Korea Selatan, untuk ikut membantu membuka kembali Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan bahwa Washington berharap negara-negara sekutu seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, hingga Eropa dapat mengambil peran lebih besar dalam menjaga jalur perdagangan strategis tersebut.

“Kami berharap Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Eropa meningkatkan perannya,” ujar Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon,Selasa (5/5/2026).

AS saat ini menjalankan operasi bernama “Project Freedom” yang bertujuan mengawal kapal-kapal komersial yang terjebak di kawasan Teluk Persia akibat meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Operasi tersebut dimulai pada 4 Mei 2026, namun sejauh ini hanya dua kapal dagang berbendera AS yang berhasil melintasi Selat Hormuz dengan pengawalan militer.

Menurut laporan, operasi ini juga sempat memicu baku tembak antara militer AS dan Iran, memperburuk situasi keamanan di kawasan tersebut.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Iran telah menyerang kapal kargo Korea Selatan serta beberapa target lain di wilayah laut strategis itu.

Di sisi lain, Iran dan AS sama-sama mengklaim memiliki kendali atas jalur pelayaran penting yang menjadi urat nadi perdagangan energi global tersebut.

Menteri Keuangan AS juga mendorong China untuk ikut menekan Iran secara diplomatik, mengingat negara tersebut merupakan pembeli utama minyak Iran.

Sementara itu, Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan ke Beijing, dengan isu Iran menjadi salah satu topik utama pembahasan.

Menurut data militer AS, sekitar 22.500 pelaut di lebih dari 1.550 kapal komersial kini terjebak di kawasan Teluk Persia akibat situasi keamanan yang tidak stabil.

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur paling vital di dunia karena menjadi rute utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.

Pentagon menegaskan bahwa misi ini bersifat sementara dan defensif, dengan tujuan menstabilkan kembali arus perdagangan internasional.

“Dunia membutuhkan jalur ini lebih dari kami. Kami hanya menstabilkan situasi,” tegas Hegseth.


Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru