Trump Ultimatum Iran: Tak Ada Lagi Sikap Lunak dalam Isu Nuklir


 Trump Ultimatum Iran: Tak Ada Lagi Sikap Lunak dalam Isu Nuklir Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, Selasa (6/4/2026). ANTARA/Anadolu/Celal Güneş/pri.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran terkait isu nuklir. Dalam pernyataannya pada Rabu, (29/4/2026) Trump menegaskan bahwa ia tidak akan lagi bersikap lunak dalam menghadapi Teheran.

Melalui platform Truth Social, Trump mendesak Iran untuk segera mengambil langkah yang lebih bijak dalam menyikapi negosiasi. Ia menilai Iran belum menunjukkan kemampuan untuk menyelesaikan persoalan secara efektif, termasuk dalam merumuskan kesepakatan di luar isu nuklir.

“Iran harus segera bersikap lebih cerdas,” tulis Trump dalam unggahannya, yang langsung menyedot perhatian publik internasional.

Pernyataan tersebut semakin mencuri perhatian karena disertai visual yang cukup provokatif—menampilkan Trump dengan setelan jas dan kacamata hitam, memegang senjata api, dengan latar ledakan di wilayah Iran.

Konflik yang Belum Mereda

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memang belum menunjukkan tanda mereda. Pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Aksi tersebut kemudian dibalas oleh Teheran dengan serangan terhadap kepentingan AS di kawasan, termasuk di sejumlah negara Teluk.

Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April, dengan mediasi dari Pakistan. Namun, harapan itu belum membuahkan hasil.

Perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad pada 11–12 April berakhir tanpa kesepakatan konkret, memperpanjang ketidakpastian di kawasan.

Proposal Iran Ditolak?

Trump kemudian mengungkapkan bahwa gencatan senjata diperpanjang atas permintaan Pakistan, sembari menunggu proposal baru dari Iran. Namun, sinyal yang muncul dari Washington tidak terlalu positif.

Pada awal pekan ini, Trump mengindikasikan bahwa ia kemungkinan besar tidak akan menerima proposal terbaru dari Iran. Dalam usulan tersebut, Teheran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia—dengan syarat pembahasan program nuklir ditunda ke tahap berikutnya dikutip Antara.

Bagi Washington, langkah tersebut dinilai belum cukup menjawab kekhawatiran utama terkait pengembangan nuklir Iran.

Arah Ketegangan Global

Situasi ini menegaskan bahwa isu nuklir Iran masih menjadi salah satu titik panas geopolitik dunia. Pernyataan keras Trump memperlihatkan bahwa jalur diplomasi masih menghadapi tantangan besar, terutama ketika kepentingan strategis kedua negara belum menemukan titik temu.

Dengan posisi yang semakin tegas dari Amerika Serikat, dunia kini menanti apakah Iran akan mengubah pendekatan—atau justru ketegangan akan kembali meningkat.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru