Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Energi Uni Eropa hingga Rp505 Triliun


 Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Energi Uni Eropa hingga Rp505 Triliun MOSKOW, ARAHKITA.COM – Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada ekonomi Uni Eropa, terutama dalam sektor energi. Biaya impor bahan bakar fosil dilaporkan melonjak hingga 25 miliar euro atau sekitar Rp505 triliun. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengungkapkan lonjakan tersebut terjadi tanpa adanya tambahan pasokan energi bagi kawasan Eropa. “Setelah 55 hari konflik di Timur Tengah, dampaknya terasa nyata. Sejak awal konflik ini, tagihan impor bahan bakar fosil meningkat lebih dari 25 miliar euro tanpa tambahan energi sedikit pun,” ujar von der Le

MOSKOW, ARAHKITA.COM – Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada ekonomi Uni Eropa, terutama dalam sektor energi. Biaya impor bahan bakar fosil dilaporkan melonjak hingga 25 miliar euro atau sekitar Rp505 triliun.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengungkapkan lonjakan tersebut terjadi tanpa adanya tambahan pasokan energi bagi kawasan Eropa.

“Setelah 55 hari konflik di Timur Tengah, dampaknya terasa nyata. Sejak awal konflik ini, tagihan impor bahan bakar fosil meningkat lebih dari 25 miliar euro tanpa tambahan energi sedikit pun,” ujar von der Leyen dalam konferensi pers,Jumat (24/4/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan para pemimpin negara Uni Eropa yang digelar di Siprus. Pertemuan itu membahas berbagai isu strategis, termasuk situasi geopolitik di Timur Tengah dan Ukraina, serta rencana anggaran jangka panjang Uni Eropa.

Menurut von der Leyen, meskipun tekanan ekonomi meningkat, Uni Eropa masih dalam kondisi terkendali. Namun, berbagai langkah antisipasi tengah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan krisis energi yang lebih besar, termasuk risiko kekurangan listrik.

Konflik di kawasan Timur Tengah sendiri dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran yang memperkeruh situasi keamanan kawasan.

Ketegangan ini berdampak pada jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang merupakan rute utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia. Gangguan di jalur tersebut menyebabkan lonjakan harga energi di pasar internasional.

Meski sempat terjadi gencatan senjata antara Washington dan Teheran pada awal April, situasi masih belum sepenuhnya stabil. Ketidakpastian ini terus menjadi tekanan bagi pasar energi global, termasuk bagi negara-negara Uni Eropa yang sangat bergantung pada impor energi.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru