Loading
Selat Bab al-Mandab/Earth Science and Remote Sensing Unit. (NASA Johnson Space Center)
TEHERAN, ARAHKITA.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat. Teheran dikabarkan mengancam akan menutup Selat Bab al-Mandab—jalur vital perdagangan global—jika Washington terus memperketat blokade laut terhadap negaranya.
Ancaman ini bukan tanpa alasan. Menurut laporan kantor berita Fars, Iran telah menyiapkan berbagai skenario respons jika tekanan militer dan ekonomi dari AS serta Israel kembali meningkat.
Dalam skenario tersebut, Iran disebut siap melakukan serangan balasan maupun langkah pencegahan. Targetnya mencakup fasilitas strategis seperti pembangkit listrik dan infrastruktur minyak serta gas milik Israel dan sekutu AS di kawasan Timur Tengah.
Lebih jauh lagi, jika serangan luar menyebabkan korban sipil atau militer di Iran, Teheran bahkan mempertimbangkan untuk melumpuhkan pusat-pusat teknologi informasi di wilayah tersebut. Langkah ini menunjukkan eskalasi konflik yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga menyasar sistem digital.
Tak berhenti di situ, Iran juga disebut telah menyiapkan strategi jika terjadi invasi darat oleh AS. Dalam kondisi tersebut, Teheran akan mengoordinasikan operasi militer bersama sekutu regionalnya, sekaligus mendorong tekanan terhadap negara-negara yang menjadi basis militer AS, termasuk kemungkinan penangkapan personel militer Amerika.
Baca juga:
AS dan Iran Teken MoU Secara Elektronik untuk Akhiri Perang, Kesepakatan Resmi Dijadwalkan di SwissSituasi ini berakar dari rangkaian konflik sebelumnya. Pada akhir Februari, AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran yang menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur. Ketegangan sempat mereda setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata sementara pada awal April dikutip Antara.
Namun, upaya negosiasi yang berlangsung di Islamabad belum membuahkan hasil konkret. Meski belum ada deklarasi resmi mengenai dimulainya kembali konflik terbuka, langkah AS yang mulai memblokade pelabuhan Iran kembali memicu ketegangan.
Baca juga:
Gejolak Energi Global Jadi Peluang, Indonesia dan Jerman Perkuat Kerja Sama Energi TerbarukanPresiden AS, Donald Trump, sempat menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata, namun tetap melanjutkan kebijakan blokade. Ia juga mengisyaratkan peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat, meski situasi di lapangan masih menunjukkan ketidakpastian.
Jika ancaman penutupan Selat Bab al-Mandab benar-benar terjadi, dampaknya bisa meluas secara global. Jalur ini merupakan salah satu titik strategis perdagangan dunia, khususnya untuk distribusi minyak dan barang dari Timur Tengah ke Eropa dan Asia.
Dengan kata lain, konflik ini bukan hanya soal geopolitik regional, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.