Loading
Menteri Luar Negeri Pakistan Muhammad Ishaq Dar. (pakun.org)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Upaya menjaga stabilitas di kawasan Timur Tengah terus dilakukan. Kali ini, Pakistan secara tegas mendorong Amerika Serikat dan Iran untuk memperpanjang masa gencatan senjata yang akan berakhir pada Rabu, 22 April 2026.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyampaikan seruan tersebut dalam pertemuannya dengan Kuasa Usaha Amerika Serikat di Islamabad, Natalie Baker. Dalam kesempatan itu, Pakistan kembali menegaskan komitmennya pada jalur dialog dan diplomasi sebagai satu-satunya cara meredakan konflik.
Menurut Dar, komunikasi terbuka antara Washington dan Teheran sangat penting untuk mencegah eskalasi yang lebih besar. Ia juga menekankan bahwa perpanjangan gencatan senjata bisa menjadi langkah krusial untuk menjaga stabilitas regional.
Di sisi lain, pihak Amerika Serikat mengapresiasi peran aktif Pakistan. Natalie Baker menyebut Islamabad telah berkontribusi positif dalam menciptakan ruang dialog dan mendorong perdamaian di kawasan.
Situasi di Timur Tengah sendiri masih jauh dari kata aman. Ketegangan meningkat sejak serangan yang dilancarkan Amerika
Serikat bersama Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu respons dari Iran yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS di kawasan.
Di tengah situasi tersebut, Pakistan mengambil peran penting sebagai mediator. Negara ini menjadi tuan rumah perundingan antara AS dan Iran pada 11–12 April, setelah sebelumnya berhasil menengahi gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai pada 8 April dikutip Antara.
Namun, masa gencatan senjata itu kini berada di ujung waktu. Upaya untuk melanjutkan negosiasi masih berlangsung, tetapi dibayangi ketidakpastian.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan menyatakan bahwa kemungkinan perpanjangan gencatan senjata sangat kecil. Ia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap diblokade hingga tercapai kesepakatan yang lebih konkret.
Kondisi ini membuat masa depan perdamaian di kawasan Timur Tengah masih menjadi tanda tanya besar. Dunia kini menanti, apakah jalur diplomasi akan kembali diutamakan, atau konflik justru semakin meluas.