Loading
Serangan Amerika Serikat ke Iran memicu lonjakan sentimen anti-AS di berbagai negara termasuk Indonesia. (Ilustrasi AI)
WASHINGTON, ARAHKITA.COM — Serangan militer Amerika Serikat ke Iran tidak hanya berdampak secara geopolitik, tetapi juga mengguncang citra Washington di mata dunia. Bahkan, di sejumlah negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, sentimen negatif terhadap AS dilaporkan meningkat tajam.
Hal ini terungkap dalam laporan media Politico yang mengutip dokumen kawat diplomatik internal Departemen Luar Negeri AS. Dokumen tersebut menyoroti bagaimana reputasi Amerika mengalami penurunan signifikan di beberapa negara, termasuk Indonesia, Azerbaijan, dan Bahrain.
Dalam laporan tersebut, para diplomat AS mencatat adanya lonjakan sentimen anti-Amerika yang terjadi secara cepat setelah serangan dilakukan. Tidak hanya itu, muncul pula kekhawatiran bahwa hubungan bilateral dengan negara-negara tersebut bisa semakin renggang.
Lebih jauh, laporan internal itu juga mengindikasikan potensi hilangnya kepercayaan—baik dari masyarakat maupun pemerintah—terhadap Amerika Serikat. Ini menjadi sinyal serius bagi Washington dalam menjaga pengaruh globalnya.
Diplomat AS Minta Ruang Gerak di Media Sosial
Baca juga:
Serangan ke Iran Picu Sentimen Anti-AS, Reputasi Amerika Disebut Menurun di Indonesia dan DuniaMenghadapi situasi tersebut, sejumlah perwakilan diplomatik AS dilaporkan meminta fleksibilitas lebih dalam mengelola komunikasi publik, terutama di media sosial. Mereka ingin bisa merespons narasi negatif secara cepat dan efektif di ruang digital.
Kedutaan Besar AS di Jakarta, misalnya, menilai perlunya pendekatan yang lebih gesit dan proaktif agar tetap relevan di tengah derasnya arus informasi.
Namun, di sisi lain, pemerintah Presiden Donald Trump justru membatasi ruang gerak tersebut. Para diplomat tidak diperkenankan membuat konten sendiri terkait konflik Iran, melainkan hanya boleh membagikan narasi resmi dari Gedung Putih atau Departemen Luar Negeri.
Kebijakan ini dinilai membatasi kemampuan diplomasi publik AS dalam menghadapi opini global yang terus berkembang.
Awal Konflik dan Negosiasi yang Belum Berujung
Ketegangan ini bermula pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui negosiasi antara AS dan Iran pada 11 April di Islamabad, Pakistan. Saat itu, Presiden Trump menyebut telah ada kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, harapan tersebut tidak bertahan lama. Sehari setelahnya, Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa kedua negara gagal mencapai kesepakatan.
Meski demikian, peluang dialog masih terbuka. Pada 16 April 2026, Trump mengungkapkan bahwa putaran negosiasi berikutnya kemungkinan dapat digelar dalam waktu dekat dikutip Antara.
Citra Global Jadi Taruhan
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik militer tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga pada persepsi global. Bagi Amerika Serikat, tantangan saat ini bukan hanya soal strategi geopolitik, tetapi juga bagaimana memulihkan kepercayaan dunia—terutama di negara-negara dengan sensitivitas tinggi terhadap isu Timur Tengah.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, menjadi salah satu barometer penting dalam melihat arah sentimen tersebut.