Eropa Siapkan ‘Plan B‘ Jika AS Keluar dari NATO, Tanda Aliansi Mulai Retak?


 Eropa Siapkan ‘Plan B‘ Jika AS Keluar dari NATO, Tanda Aliansi Mulai Retak? Arsip foto - Bendera Jerman, NATO, dan Uni Eropa di depan Kantor Kanselir Jerman di Berlin pada (9/7/2025). ANTARA/Anadolu/Halil Sağırkaya/pri.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Hubungan transatlantik mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan. Negara-negara Eropa kini tak lagi sepenuhnya yakin pada komitmen Amerika Serikat dalam aliansi pertahanan NATO.

Laporan terbaru dari The Wall Street Journal mengungkap bahwa sejumlah negara Eropa tengah menyusun “rencana cadangan” untuk menghadapi kemungkinan terburuk: keluarnya Amerika Serikat dari NATO.

Langkah ini bukan sekadar wacana. Sejak 2025, diskusi tentang pertahanan mandiri Eropa sudah mulai digodok. Kini, rencana tersebut semakin serius setelah mendapat dukungan dari Jerman—negara yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung kuat peran AS dalam menjaga keamanan Eropa.

Dari Ketergantungan ke Kemandirian

Rencana ini tidak dimaksudkan untuk menyaingi NATO. Sebaliknya, tujuannya adalah memastikan Eropa tetap mampu mempertahankan diri jika suatu saat Amerika Serikat menarik pasukan atau menolak memberikan bantuan militer.

Idealnya, Washington tetap menjadi bagian dari NATO. Namun, dalam skenario baru ini, tanggung jawab utama pertahanan kawasan akan lebih banyak dipegang oleh negara-negara Eropa sendiri.

Perubahan arah ini menandai pergeseran besar dalam dinamika keamanan global—dari ketergantungan pada AS menuju kemandirian regional.

Pemicu: Politik dan Ketegangan Global

Percepatan rencana ini tak lepas dari dinamika politik di Amerika Serikat. Presiden Donald Trump disebut-sebut kembali mempertimbangkan kemungkinan menarik AS dari NATO, terutama setelah sekutu Eropa menolak terlibat dalam konflik melawan Iran.

Pernyataan Trump soal potensi “mengambil alih Greenland” juga memperkeruh hubungan dengan negara-negara Eropa, khususnya Denmark.

Selain itu, penolakan Eropa untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz semakin mempertegas perbedaan kepentingan antara kedua pihak.

Jerman Berubah Haluan

Salah satu perkembangan paling signifikan datang dari Jerman. Di bawah Kanselir Friedrich Merz, Berlin mulai meragukan konsistensi Amerika Serikat sebagai sekutu jangka panjang.

Padahal sebelumnya, Jerman adalah salah satu negara yang paling mengandalkan payung keamanan AS.

Perubahan sikap ini memicu efek domino. Negara-negara seperti Inggris, Prancis, Polandia, hingga kawasan Nordik dan Kanada mulai menyuarakan dukungan terhadap konsep “koalisi sukarela” di dalam NATO.

Bangun Kekuatan Militer Sendiri

Dalam rencana tersebut, Eropa juga mulai membahas langkah-langkah konkret untuk memperkuat pertahanan mereka, di antaranya:

  • Mendorong kembali kebijakan wajib militer
  • Mempercepat produksi alat pertahanan
  • Mengembangkan kemampuan perang anti-kapal selam
  • Memperkuat teknologi intelijen dan ruang angkasa
  • Meningkatkan kemampuan pengisian bahan bakar di udara
  • Memperluas mobilitas udara militer

Semua ini bertujuan untuk mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat di berbagai sektor strategis dikutip Antara.

Masa Depan NATO Dipertanyakan

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah NATO masih akan relevan tanpa peran dominan Amerika Serikat?

Jika skenario terburuk benar-benar terjadi, dunia bisa menyaksikan perubahan besar dalam peta kekuatan global—dengan Eropa yang lebih mandiri, namun juga menghadapi tantangan baru dalam menjaga stabilitas kawasan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru