Loading
Pekerjaan rumah tangga di India sebagian besar merupakan sektor yang tidak terorganisir dan informal. (Mint via Getty Images)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Di India, memesan asisten rumah tangga (ART) kini semudah memesan ojek online. Bahkan, hanya dalam waktu 15 menit, pekerja bisa langsung datang ke rumah.
Namun di balik kemudahan ini, muncul pertanyaan penting: apakah sistem ini benar-benar adil bagi para pekerja?
ART Instan: Cepat, Praktis, dan Makin Populer
Pada suatu siang di Noida, wilayah dekat ibu kota Delhi, Seema Kumari datang tepat waktu ke rumah pelanggan. Tanpa banyak bicara, ia langsung bekerja—membersihkan dapur, merapikan tempat tidur, hingga mengepel lantai.
Dalam waktu kurang dari satu jam, rumah sudah kembali rapi.
Seema adalah salah satu pekerja di platform digital seperti Urban Company, yang memungkinkan pengguna memesan layanan rumah tangga secara instan—bahkan dalam hitungan menit.
Fenomena ini menandai perubahan besar. Jika dulu pekerjaan rumah tangga di India bergantung pada rekomendasi dari mulut ke mulut, kini semuanya berpindah ke aplikasi.
Dilaporkan dan dikutip dari BBC, sektor ini mencakup sekitar 30 juta pekerja, sebagian besar perempuan yang memiliki akses terbatas ke pekerjaan formal.
Peluang Baru: Penghasilan Lebih Tinggi
Bagi Seema, bergabung dengan platform digital membawa perubahan signifikan.
Sebelumnya, ia bekerja di pabrik garmen dengan penghasilan sekitar 10.000–14.000 rupee per bulan. Kini, ia bisa memperoleh sekitar 20.000 rupee.
Penghasilan itu sangat berarti untuk menghidupi keluarganya.
Platform seperti Urban Company dan Pronto juga mengklaim membawa perubahan positif: pelatihan kerja, sistem pembayaran digital, hingga standar harga yang lebih jelas.
Namun, Tekanan Baru Tak Terhindarkan
Di balik peningkatan pendapatan, muncul tekanan yang sebelumnya tidak ada.Setiap pekerjaan kini dinilai melalui rating pelanggan. Nilai rendah bisa berdampak langsung pada jumlah pesanan berikutnya.
Sistem kerja juga diatur oleh algoritma—mulai dari pembagian pekerjaan hingga sanksi.
Seema mengaku, penghasilannya sering terpotong karena berbagai hal: keterlambatan, pembatalan, hingga rating yang kurang baik.
“Saya hanya pernah menerima gaji penuh sekali, ketika tidak mengambil cuti dan bekerja penuh setiap hari,” ujarnya.
Bahkan, keterlambatan beberapa menit akibat faktor di luar kendali—seperti akses masuk gedung—bisa berujung denda.
Masalah Lama Belum Hilang, Masalah Baru Muncul
Sebelum era aplikasi, pekerjaan ART di India memang sudah penuh tantangan: jam kerja panjang, bayaran tidak pasti, hingga minim perlindungan hukum.
Namun, digitalisasi tidak serta-merta menyelesaikan semua masalah.
Sebaliknya, muncul tekanan baru: target waktu yang ketat, sistem penilaian berbasis pelanggan, dan pendapatan yang tidak stabil karena dipengaruhi algoritma.
Aktivis buruh, Akriti Bhatia, menilai ekspektasi layanan instan ini tidak realistis.
“Tidak manusiawi mengharapkan seseorang bisa siap dalam 15 menit. Mereka manusia, bukan mesin,” ujarnya.
Realitas di Lapangan: Istirahat dan Kesehatan Terabaikan
Kondisi kerja juga memengaruhi keseharian para pekerja.
Di Hyderabad, seorang pekerja bernama Amrutha mengaku sengaja menghindari minum selama jam kerja karena sulit menemukan akses toilet.
Faktanya, di banyak rumah di India, ART tidak diperbolehkan menggunakan kamar mandi majikan.
Waktu istirahat pun semakin terbatas. Di sela pekerjaan, mereka sering menunggu di tempat umum seperti taman atau halte bus.“Ada kalanya saya tidak sempat makan. Ini mulai berdampak pada kesehatan saya,” kata Seema.
Konsumen Diuntungkan, Tapi Masih Ada Kekhawatiran
Bagi pengguna, layanan ini jelas menguntungkan: cepat, praktis, dan fleksibel.
Namun tidak semua orang merasa nyaman.
Sushma, warga Delhi, mengaku ragu menggunakan jasa ART dari aplikasi.
“Saya tidak mengenal orangnya. Bagaimana saya bisa membiarkan mereka masuk ke rumah?” ujarnya.
Kekhawatiran lain adalah soal hubungan jangka panjang antara majikan dan pekerja, yang kini mulai tergantikan oleh sistem instan berbasis aplikasi.
Di Persimpangan: Kemudahan vs Keadilan
Layanan ART berbasis aplikasi memang menawarkan solusi modern bagi kebutuhan rumah tangga urban.
Namun di sisi lain, sistem ini juga menghadirkan tantangan baru bagi para pekerja—mulai dari tekanan rating hingga ketidakpastian penghasilan.
Di tengah pertumbuhan pesat teknologi, pertanyaan besarnya tetap sama: apakah kemudahan bagi pengguna sebanding dengan kesejahteraan para pekerja?
Untuk Seema, jawabannya masih sederhana.
“Pekerjaan ini berat. Tapi untuk sekarang, ini membantu saya menghidupi anak-anak saya,” katanya.