Trump Kecam NATO dan Desak Sekutu Amankan Selat Hormuz


 Trump Kecam NATO dan Desak Sekutu Amankan Selat Hormuz Markas NATO di Brussel, Belgia. (ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe/am.)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Presiden Donald Trump menekankan kepada anggota NATO agar berani mengirim kapal angkatan laut ke Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan kepada Politico, Kamis (2/4/2026).

“Mereka harus berani masuk dan mengirimkan kapal-kapal mereka ke sana dan menikmatinya,” ujar Trump, menyinggung absennya NATO di jalur pelayaran yang kini berada di bawah pengawasan Iran sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel terhadap Teheran.

Trump menambahkan, “Saya tidak peduli. Saya tidak membutuhkan mereka,” ketika ditanya mengenai frustrasinya terhadap aliansi militer tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi minyak dunia, dengan sekitar 20 juta barel minyak melewati perairan ini setiap hari. Jalur ini terganggu sejak awal Maret akibat konflik AS-Israel dan Iran. Trump berulang kali meminta negara-negara Eropa dan Teluk untuk lebih aktif mengamankan selat tersebut, menegaskan bahwa pihak yang bergantung pada minyak dari Hormuz harus ikut bertanggung jawab.

Menurut The Wall Street Journal, Trump dijadwalkan bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Washington minggu depan.

Sepanjang sejarah NATO, Pasal 5 perjanjian pertahanan kolektif hanya diaktifkan sekali, yakni setelah serangan teroris 2001. Pasal ini menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota.

Namun, sekutu NATO kini mengkritik langkah Trump yang memulai serangan terhadap Iran tanpa berkonsultasi terlebih dahulu. Dalam wawancara terpisah dengan The Telegraph, Trump menyebut anggota NATO sebagai “pengecut” dan mempertimbangkan kemungkinan menarik diri dari aliansi.

Meski demikian, langkah sepihak meninggalkan NATO menghadapi hambatan hukum. Undang-undang 2023 melarang presiden AS menarik diri dari aliansi tanpa dukungan mayoritas dua pertiga dari Senat.

Langkah Trump ini menimbulkan ketegangan baru antara Washington dan sekutu Eropa di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru