Loading
Arsip - Suasana sidang Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat (18/9/2025). (ANTARA/Xinhua/Xie E/aa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan di Selat Hormuz kini memasuki babak baru. Prancis disebut turut membantu Bahrain dalam menyusun rancangan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) guna membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Langkah ini menjadi sorotan global, mengingat Selat Hormuz adalah salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Gangguan di kawasan ini bukan hanya berdampak regional, tetapi juga bisa mengguncang pasar energi global.
Menurut laporan Politico pada Kamis (1/4/2026), yang mengutip sumber diplomat anonim, Prancis memberikan masukan penting kepada Bahrain terkait isi resolusi yang bahkan membuka kemungkinan penggunaan kekuatan untuk memastikan jalur pelayaran tetap terbuka.
Sebelumnya, pada 27 Maret, Financial Times melaporkan bahwa Bahrain bersama Uni Emirat Arab (UEA) tengah mengupayakan resolusi di DK PBB untuk memulihkan stabilitas pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, upaya ini diprediksi tidak akan berjalan mulus. Rusia dan China disebut-sebut berpotensi menolak resolusi tersebut, yang bisa memperumit proses pengesahan di DK PBB.
Baca juga:
Trump Bentuk Dewan Perdamaian Gaza, Negara Diminta Bayar USD 1 Miliar untuk Kursi PermanenSeorang diplomat mengungkapkan, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot telah bertemu dengan mitranya dari Bahrain serta sejumlah pejabat negara Teluk pada 25 Maret lalu. Pertemuan itu bertujuan menyelaraskan pandangan sekaligus memperbesar peluang resolusi tersebut dapat disetujui dan dijalankan secara efektif dikutip Antara.
Eskalasi Konflik Picu Krisis
Baca juga:
Dino Patti Djalal: Dewan Perdamaian Bukan Jawaban Final, RI Harus Waspadai Manuver AS–IsraelSituasi di Selat Hormuz tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya konflik di Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan besar serta korban jiwa dari kalangan sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Rangkaian aksi saling serang ini memicu eskalasi yang berujung pada blokade de facto Selat Hormuz. Dampaknya langsung terasa: distribusi minyak dan gas alam cair terganggu, produksi energi tersendat, dan harga energi global mulai merangkak naik.
Dampak Global yang Tak Terhindarkan
Selat Hormuz selama ini menjadi “urat nadi” perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur ini. Ketika jalur tersebut terganggu, efek domino langsung menjalar ke berbagai negara, termasuk lonjakan harga bahan bakar dan tekanan pada ekonomi global.
Karena itu, dorongan resolusi di DK PBB bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga upaya mencegah krisis energi yang lebih luas.Kini, dunia menanti: apakah resolusi ini akan berhasil disahkan, atau justru terhambat oleh dinamika politik global di Dewan Keamanan?