Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, Teheran Membantah: Apa yang Sebenarnya Terjadi?


 Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, Teheran Membantah: Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ilustrasi Bendera negara Iran dan Amerika Serikat shutterstock

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa kepemimpinan baru Iran telah mengajukan permintaan gencatan senjata kepada Washington. Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pihak Teheran.

Melalui platform Truth Social, Trump menyebut bahwa pemimpin baru Iran menunjukkan pendekatan yang berbeda dibanding pendahulunya.

“Presiden rezim baru Iran, yang tidak seradikal dan lebih cerdas dari pendahulunya, baru saja meminta gencatan senjata dengan Amerika Serikat,” ujar Trump, Rabu (1/4/2026).

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat hanya akan mempertimbangkan permintaan tersebut jika jalur strategis Selat Hormuz dibuka kembali. Ia menekankan pentingnya jalur tersebut dalam stabilitas kawasan dan perdagangan global.

“Kami hanya akan mempertimbangkan jika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan bersih,” tegasnya.

Trump bahkan memperingatkan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut hingga tuntutan tersebut dipenuhi.

Namun klaim itu langsung ditolak oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeli Baqaei. Ia menegaskan bahwa informasi tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

“Pernyataan bahwa Iran meminta gencatan senjata tidak sesuai realitas,” kata Baqaei.

Sementara itu, laporan dari media Axios menyebutkan adanya upaya diplomatik yang sedang berlangsung. Mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat, diskusi terkait gencatan senjata memang tengah dijajaki, dengan salah satu poin utama adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.

Meski begitu, belum ada kepastian apakah kesepakatan dapat tercapai. Para pejabat juga tidak merinci apakah komunikasi dilakukan secara langsung atau melalui pihak ketiga seperti Pakistan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan penjelasan berbeda. Ia menyebut bahwa komunikasi yang terjadi dengan Amerika Serikat bukanlah negosiasi resmi.

“Ini bukan perundingan, melainkan pertukaran pesan terbatas, baik secara langsung maupun melalui perantara,” jelas Araghchi.

Trump sendiri sebelumnya beberapa kali menyatakan bahwa kepemimpinan baru Iran lebih rasional. Dalam wawancara dengan NBC News, ia bahkan optimistis konflik yang berlangsung akan segera berakhir.

Selain itu, Trump juga mengungkap bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai bagian dari dinamika diplomasi yang sedang berlangsung.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru