Loading
Ilustrasi - Warga menghadiri unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran di luar Balai Kota Los Angeles di California, Amerika Serikat, 7 Maret 2026. (ANTARA/XInhua/Qiu Chen.)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pemerintah Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan kemungkinan keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Wacana ini mencuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan Tasnim News Agency, sejumlah lembaga pemerintah, termasuk parlemen di Teheran, sedang membahas langkah tersebut secara mendesak sebagai bagian dari respons terhadap situasi terkini.
Salah satu anggota parlemen, Malek Shariati, mengungkapkan bahwa terdapat rencana darurat untuk mendukung hak nuklir Iran.
“Rencana darurat untuk mendukung hak nuklir Iran mencakup tiga bidang utama,” ujar Shariati melalui akun media sosialnya, Sabtu (28/3/2026).
Ia menjelaskan, rencana tersebut meliputi opsi keluar dari NPT, pencabutan undang-undang terkait implementasi kesepakatan nuklir tahun 2014, serta penguatan kerja sama internasional baru dengan negara-negara yang memiliki pandangan sejalan.
Beberapa negara yang disebut dalam rencana tersebut antara lain anggota kelompok BRICS seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, serta kerja sama regional lain termasuk Shanghai.
Wacana penarikan diri dari NPT muncul setelah meningkatnya konflik di kawasan. Ketegangan memuncak sejak serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar serta kerusakan signifikan. Situasi ini memicu respons militer dari Iran yang melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah target.
Beberapa negara yang terdampak dalam eskalasi ini antara lain Yordania dan Irak, serta wilayah Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Konflik ini tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga memicu gangguan pada pasar global dan jalur penerbangan internasional. Para analis menilai, ketidakjelasan tujuan strategis dalam konflik ini berpotensi memperpanjang ketegangan.
Di sisi lain, Washington selama ini dikenal menentang program pengayaan uranium Iran yang dinilai berpotensi mengarah pada pengembangan senjata nuklir.
Jika Iran benar-benar keluar dari NPT, langkah tersebut dikhawatirkan akan memperburuk situasi dan memicu ketidakstabilan global yang lebih luas.