Konflik Timur Tengah Ancam Ekonomi Asia, ADB Prediksi Pertumbuhan Turun


 Konflik Timur Tengah Ancam Ekonomi Asia, ADB Prediksi Pertumbuhan Turun Ilustrasi - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, berfoto dengan Country Director ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov, dalam pertemuan mereka di Gedung Kemendiktisaintek, Senin (26/1/2026). (ANTARA/HO-Kemendiktisaintek)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah tak hanya berdampak pada stabilitas geopolitik global, tetapi juga berpotensi mengguncang ekonomi Asia.

Laporan terbaru dari Asian Development Bank (ADB) memperingatkan bahwa konflik tersebut bisa menekan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik hingga 1,3 poin persentase dalam periode 2026–2027.

Tak hanya itu, lonjakan harga energi akibat konflik juga diperkirakan dapat memicu kenaikan inflasi hingga 3,2 poin persentase, terutama jika gangguan pasokan berlangsung lebih dari satu tahun.

Kepala Ekonom ADB, Albert Park, menjelaskan bahwa dampak konflik akan terasa melalui berbagai jalur. Mulai dari kenaikan harga energi, terganggunya rantai pasokan global, hingga kondisi keuangan yang semakin ketat.

“Selain itu, sektor pariwisata dan aliran remitansi juga berpotensi ikut terdampak,” ujarnya dalam laporan resmi ADB, Sabtu (28/3/2026).

Tiga Skenario Risiko Ekonomi

ADB memetakan tiga kemungkinan skenario yang sangat bergantung pada durasi konflik. Jika konflik berlangsung singkat, tekanan harga energi diperkirakan hanya sementara dan ekonomi dapat pulih relatif cepat.

Namun, jika konflik berlarut-larut, dampaknya akan jauh lebih besar dan berkepanjangan, baik terhadap pertumbuhan maupun inflasi.

Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik disebut sebagai wilayah yang paling rentan mengalami perlambatan pertumbuhan. Sementara itu, lonjakan inflasi diprediksi paling tinggi terjadi di Asia Selatan.

Situasi ini mencerminkan tingginya ketidakpastian global, sehingga setiap negara perlu bersikap waspada dalam merespons dinamika yang terjadi.

Dilema: Pertumbuhan vs Inflasi

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi negara-negara Asia adalah dilema antara menjaga pertumbuhan ekonomi atau mengendalikan inflasi.

Disrupsi energi yang berkepanjangan dapat memaksa pemerintah menghadapi situasi sulit: ekonomi melambat di satu sisi, sementara harga-harga terus meningkat di sisi lain.

Karena itu, ADB menekankan pentingnya kebijakan yang tepat sasaran, terutama untuk menjaga stabilitas sekaligus melindungi kelompok masyarakat paling rentan dikutip Antara.

Strategi yang Disarankan ADB

Untuk menghadapi risiko tersebut, ADB mengusulkan empat langkah strategis:

1. Fokus pada stabilisasi, bukan kontrol harga berlebihan

Membiarkan harga energi menyesuaikan sebagian dianggap penting untuk mendorong efisiensi dan transisi ke energi alternatif. Subsidi besar-besaran justru berisiko menghambat adaptasi ekonomi.

2. Bantuan fiskal yang tepat sasaran

Dukungan harus difokuskan pada kelompok rentan dan sektor terdampak, dengan batas waktu yang jelas agar tidak membebani anggaran negara.

3. Peran bank sentral menjaga stabilitas pasar

Bank sentral diharapkan menjaga likuiditas dan mengendalikan volatilitas tanpa melakukan pengetatan berlebihan yang dapat memperlambat pertumbuhan.

4. Penghematan energi secara kolektif

Langkah sederhana seperti membatasi penggunaan AC, mengurangi konsumsi listrik, hingga mendorong penggunaan transportasi umum dapat membantu menekan tekanan energi.

ADB juga menyarankan kebijakan seperti kerja dari rumah (WFH), jadwal kerja bergiliran, hingga penerapan hari bebas kendaraan di kota-kota besar sebagai upaya efisiensi energi.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru