Loading
Ilustrasi Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py
WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Teheran secara terbuka menyatakan ketidakpercayaannya terhadap niat Washington untuk berunding, setelah dua upaya diplomasi sebelumnya berakhir dengan kegagalan.
Menurut laporan media internasional, Iran menyampaikan sikap tersebut kepada sejumlah negara mediator seperti Pakistan, Mesir, dan Turki. Pengalaman masa lalu menjadi alasan utama: dua kali proses negosiasi yang seharusnya membuka jalan damai justru berujung konflik.
Pada Juni lalu, ketegangan meningkat saat Israel—dengan dukungan Presiden AS Donald Trump—melancarkan serangan ke Iran tepat menjelang putaran pembicaraan. Sementara itu, pada Februari, situasi serupa terjadi ketika operasi militer dilakukan setelah adanya kesepakatan awal terkait isu nuklir.
Salah satu sumber menyebutkan, Iran tidak ingin kembali terjebak dalam skenario serupa. “Kami tidak ingin tertipu lagi,” ungkapnya.
Kekhawatiran Teheran juga diperkuat oleh meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Bagi Iran, langkah tersebut justru bertolak belakang dengan narasi perdamaian yang disampaikan Washington.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa proses negosiasi kembali diupayakan. Ia bahkan telah menunjuk tim khusus yang terdiri dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta Jared Kushner untuk menangani komunikasi dengan Iran.
Trump juga mengklaim bahwa pembicaraan akan kembali dilanjutkan dan menunjukkan adanya keseriusan dari pihak Iran.
Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada pembicaraan resmi dengan Amerika Serikat. Bahkan, ia menyebut informasi tersebut sebagai bagian dari narasi yang berpotensi memengaruhi pasar global.
Situasi semakin kompleks setelah serangan pada akhir Februari yang menargetkan sejumlah wilayah di Iran, termasuk Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan dan korban sipil, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah dikutip Antara.
Awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyebut serangan itu sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran. Namun belakangan, pernyataan yang muncul juga mengarah pada keinginan adanya perubahan kekuasaan di Iran—sebuah sikap yang semakin memperdalam ketidakpercayaan Teheran.
Di tengah dinamika ini, peluang dialog damai antara kedua negara masih terbuka, namun dibayangi ketegangan dan trauma kegagalan sebelumnya. Dunia pun kini menanti: apakah diplomasi masih punya ruang, atau konflik akan kembali menjadi jalan utama?