Turki Batasi Ekspor Pangan di Tengah Konflik Timur Tengah, Harga Terancam Naik


 Turki Batasi Ekspor Pangan di Tengah Konflik Timur Tengah, Harga Terancam Naik Ilustrasi perahu berlayar di pintu masuk Golden Horn di Istanbul, Turki. Terletak di sisi Eropa Istanbul, Golden Horn adalah salah satu pelabuhan alami tersibuk di kota itu. ANTARA/Xinhua/Liu Lei/aa.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak langsung ke sektor pangan global. Pemerintah Turki kini mengambil langkah tegas dengan membatasi ekspor sejumlah komoditas makanan demi menjaga stabilitas harga di dalam negeri.

Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang ikut memicu gangguan rantai pasok serta lonjakan harga bahan baku.

Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian Turki mengonfirmasi bahwa beberapa komoditas utama seperti daging ayam, telur, kacang arab, dan berbagai jenis kacang-kacangan kini masuk dalam daftar pembatasan ekspor.

Tak hanya itu, pemerintah juga menghentikan sementara penerbitan izin ekspor untuk sejumlah produk strategis lain, termasuk daging sapi, daging kambing, minyak bunga matahari, biji minyak, hingga lentil merah dan hijau.

Menahan Inflasi, Melindungi Pasar Domestik

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Pemerintah Turki berupaya menekan inflasi yang masih cukup tinggi sekaligus menjaga ketersediaan pangan di dalam negeri.

Data dari Institut Statistik Turki (TUIK) menunjukkan bahwa inflasi tahunan negara tersebut masih berada di angka 31,53 persen hingga akhir Februari 2026—angka yang cukup signifikan untuk ukuran ekonomi domestik.

Dengan membatasi ekspor, pemerintah berharap harga pangan tidak semakin melonjak dan tetap terjangkau bagi masyarakat.

Strategi Ganda: Rem Ekspor, Gas Impor

Selain membatasi ekspor, Turki juga menjalankan strategi sebaliknya: membuka keran impor lebih lebar.

Beberapa kebijakan yang diambil antara lain:

  • Tarif impor minyak bunga matahari menjadi 0 persen untuk kuota sekitar 1 juta ton hingga Mei 2026
  • Tarif impor lentil hijau diturunkan dari 19,3 persen menjadi 10 persen hingga April
  • Tarif impor lemon dipangkas dari 54 persen menjadi 10 persen hingga Juli
  • Tarif impor oat (haver) turun dari 130 persen menjadi 30 persen, khusus untuk industri makanan seperti muesli dan biskuit

Kombinasi kebijakan ini dirancang untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga di pasar domestik.

Dampak Lebih Luas: Industri Turki Mulai Terpukul

Dampak konflik Timur Tengah tak hanya terasa di sektor pangan, tetapi juga merambat ke industri manufaktur di Turki.

Gangguan rantai pasok global, terutama dalam jalur pelayaran maritim, menyebabkan kenaikan drastis harga bahan baku. Material polimer, misalnya, dilaporkan melonjak hingga 60–80 persen, sementara biaya logistik naik sekitar 70 persen dikutip Antara.

Akibatnya, sejumlah pabrik terpaksa menghentikan produksi sementara dan bahkan meliburkan pekerja lebih awal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi global—terutama di sektor pangan dan industri.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru