Minggu, 23 Agustus 2026

SBY Soroti Banyaknya Pelanggaran Hukum Internasional, Serukan Kebangkitan Multilateralisme


 SBY Soroti Banyaknya Pelanggaran Hukum Internasional, Serukan Kebangkitan Multilateralisme Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono mendorong multilateralisme serta kerja sama regional dan global dalam Tokyo Conference pada 10-12 Maret, di Tokyo, Jepang. ANTARA/KBRI Tokyo.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyoroti meningkatnya pelanggaran hukum internasional di tengah situasi geopolitik global yang semakin tidak menentu. Ia menilai dunia perlu kembali menguatkan multilateralisme dan kerja sama internasional agar stabilitas global tetap terjaga.

Pernyataan tersebut disampaikan SBY dalam Tokyo Conference yang berlangsung pada 10–12 Maret 2026 di Jepang.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, mengatakan kehadiran SBY dalam forum tersebut bertujuan memberikan perspektif Asia mengenai pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan global.

“Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono hadir untuk menyumbang gagasan mengenai opsi Asia dalam Age of Power serta pentingnya menghormati hukum internasional. Beliau juga menekankan perlunya membangun kembali multilateralisme,” ujar Nurmala dalam rilis pers Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, Sabtu (14/3/2026).

Dunia Menghadapi Tantangan Geopolitik

Dalam konferensi tersebut, SBY tampil sebagai pembicara utama bersama mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, yang juga menjadi kepala penasihat Tokyo Conference.

Dalam paparannya, SBY menekankan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks. Menurutnya, berbagai konflik internasional menunjukkan bahwa hukum internasional kerap diabaikan.

Ia menyinggung sejumlah konflik global yang masih berlangsung, termasuk perang antara Rusia dan Ukraina, serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat.

“Hukum internasional sudah tidak lagi dipatuhi, bahkan diabaikan. Padahal kekuasaan harus dikontrol. Cara mengontrol kekuasaan adalah dengan kekuatan lain yang juga berlandaskan aturan,” kata SBY.

Menurutnya, dunia yang berbasis aturan (rules-based order) kini menghadapi tantangan serius. Karena itu, ia mendorong negara-negara di dunia untuk kembali mengedepankan dialog dan kerja sama internasional.

Asia Paling Terdampak

SBY juga menilai Asia menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak oleh dinamika rivalitas kekuatan global.

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Fumio Kishida, yang menilai bahwa kawasan Asia kerap menjadi arena dampak kebijakan geopolitik negara-negara besar serta konflik antarnegara.

Karena itu, forum internasional seperti Tokyo Conference dinilai penting untuk memperkuat kerja sama multilateral dalam menjaga perdamaian global.

Dialog Pemimpin Asia

Sehari sebelum konferensi utama digelar, para pemimpin dan tokoh Asia juga mengikuti Asian Leaders Roundtable dengan tema Asia’s Options in an “Age of Power”: How to Defend and Rebuild the Rules-Based Multilateral Order.

Dalam forum tersebut, SBY bertindak sebagai Co-Chair bersama Kishida dikutip Antara.

Beberapa tokoh Indonesia turut hadir sebagai panelis, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, serta mantan Duta Besar Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma.

Forum tersebut membahas berbagai opsi yang dapat diambil negara-negara Asia untuk mempertahankan sekaligus memperkuat kembali tatanan dunia berbasis aturan.

Bagi SBY, kerja sama regional dan global menjadi kunci penting agar dunia tidak semakin terjebak dalam rivalitas kekuatan yang dapat memicu konflik baru.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru