Seoul Keberatan Sistem Patriot AS Dipindahkan ke Timur Tengah, Ini Penjelasan Presiden Lee


 Seoul Keberatan Sistem Patriot AS Dipindahkan ke Timur Tengah, Ini Penjelasan Presiden Lee Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung berbicara selama konferensi pers internasional setelah KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) berakhir, di Gyeongju, Korea Selatan, pada 1 November 2025. (Anadolu/Getty Images/CNBC)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Korea Selatan menyatakan keberatan terhadap rencana Amerika Serikat memindahkan sebagian sistem pertahanan udara yang ditempatkan di wilayahnya ke Timur Tengah. Namun Presiden Lee Jae Myung mengakui bahwa Seoul tidak sepenuhnya memiliki kewenangan untuk menolak keputusan tersebut.

Dalam pengarahan kepada kabinet pada Selasa, Lee menjelaskan bahwa Pasukan Amerika Serikat di Korea atau USFK (United States Forces Korea) kemungkinan akan memindahkan sejumlah sistem pertahanan udara sesuai kebutuhan operasi militernya.

“Meskipun kami telah menyatakan penolakan, kenyataannya adalah kami tidak dapat sepenuhnya memaksakan posisi kami,” ujar Lee.

USFK sendiri merupakan komando militer Amerika Serikat di Korea Selatan yang mengawasi sekitar 28.500 personel militer di Semenanjung Korea. Keberadaan pasukan ini selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari strategi keamanan menghadapi ancaman Korea Utara.

Negosiasi Pemindahan Sistem Patriot

Kekhawatiran Seoul muncul setelah adanya laporan bahwa Washington tengah mempertimbangkan memindahkan baterai sistem pertahanan udara Patriot dari Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan di Timur Tengah.

Dalam salah satu laporan media internasional, disebutkan bahwa negosiasi terkait rencana tersebut sedang berlangsung antara kedua negara.

Sebagaimana dikutip dari laporan CNBC, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun menyatakan bahwa Washington dan Seoul sedang melakukan pembicaraan mengenai kemungkinan pemindahan baterai Patriot dari Korea Selatan untuk digunakan dalam konflik di Timur Tengah.

Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional menyusul konflik yang melibatkan Iran serta meningkatnya ancaman serangan rudal dan drone di kawasan Teluk.

Seoul: Pertahanan terhadap Korea Utara Tetap Kuat

Meski muncul kekhawatiran publik, Presiden Lee menegaskan bahwa pemindahan sementara sistem pertahanan tersebut tidak akan secara signifikan melemahkan kemampuan pertahanan Korea Selatan.

Menurutnya, kombinasi kekuatan militer Korea Selatan dan Amerika Serikat masih sangat kuat dibandingkan dengan Korea Utara.Sejumlah analis keamanan juga memiliki pandangan serupa. Mereka menilai bahwa kekuatan militer gabungan Seoul dan Washington masih jauh lebih unggul dibandingkan kemampuan militer Pyongyang.

Profesor studi internasional dari Ewha Womans University, Leif-Eric Easley, menilai bahwa pemindahan sementara sistem Patriot tidak akan mengguncang stabilitas keamanan di Asia Timur.

Menurutnya, Korea Utara tetap sangat terhalang oleh kekuatan militer konvensional Korea Selatan serta payung nuklir Amerika Serikat.

Sistem Patriot Tetap Penting bagi Pertahanan Seoul

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa sistem Patriot masih merupakan komponen krusial dalam arsitektur pertahanan udara Korea Selatan.

Peneliti keamanan dari International Institute for Strategic Studies (IISS), Lami Kim, menjelaskan bahwa sistem Patriot masih menjadi tulang punggung perlindungan udara Seoul.

Hal ini berlaku meskipun Korea Selatan telah mengembangkan sistem pertahanan rudalnya sendiri seperti Cheongung, yang dirancang untuk menghadapi ancaman rudal balistik dan serangan udara.

Sistem Cheongung bahkan dilaporkan telah digunakan dalam operasi tempur pertama ketika Uni Emirat Arab mengerahkan teknologi tersebut untuk menghadapi proyektil dari Iran.

Dampak Geopolitik dan Persepsi Sekutu Asia

Rencana pemindahan sistem Patriot juga memicu diskusi yang lebih luas mengenai prioritas strategi militer Amerika Serikat.Sebagian analis menilai langkah tersebut dapat memperkuat persepsi bahwa Washington lebih memprioritaskan kepentingannya di Timur Tengah dibandingkan dengan keamanan sekutu di Asia.

Peneliti keamanan Indo-Pasifik dari Royal United Services Institute, Philip Shetler-Jones, mengatakan bahwa keputusan semacam ini bisa memicu pertanyaan mengenai kesiapan Amerika Serikat menghadapi dinamika konflik global.

Ia menilai bahwa jika sekutu seperti Korea Selatan semakin mandiri dalam pertahanan, konsekuensinya bisa saja Amerika Serikat mengurangi ketergantungan strategis terhadap mereka.

Ketegangan Regional Masih Tinggi

Hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara sendiri masih berada dalam kondisi tegang. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bahkan pernah menyebut Korea Selatan sebagai “entitas paling bermusuhan”.

Situasi tersebut membuat sistem pertahanan udara tetap menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas keamanan di Semenanjung Korea.

Karena itu, setiap rencana pemindahan sistem pertahanan militer—meskipun bersifat sementara—akan selalu mendapat perhatian serius dari pemerintah maupun pengamat keamanan di kawasan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru