Selat Hormuz Jadi Titik Kritis, Harga Minyak Dunia Terus Menanjak


 Selat Hormuz Jadi Titik Kritis, Harga Minyak Dunia Terus Menanjak Ilustrasi Selat Hormuz dan kapal tanker minyak, dibuat menggunakan model AI ChatGPT

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Harga minyak dunia kembali melonjak tajam di awal pekan, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat pasar global siaga terhadap potensi gangguan pasokan energi, terutama dari jalur strategis Selat Hormuz.

Pada perdagangan Senin, minyak mentah Brent mencetak rekor tertinggi dalam 52 minggu terakhir. Harganya melesat sekitar 9 persen ke kisaran USD 79 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga ikut naik lebih dari 9 persen dan diperdagangkan di atas USD 73 per barel.

Lonjakan harga ini terjadi setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kembali berlanjut pada Minggu malam. Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai Operasi Epic Fury, dan menegaskan bahwa serangan besar-besaran akan terus dilakukan hingga target strategis AS tercapai.

Di sisi lain, Israel juga melancarkan serangan tambahan ke wilayah Iran serta sejumlah target Hizbullah di Lebanon. Rentetan serangan ini menyusul aksi Iran yang sebelumnya menyerang target militer dan infrastruktur di beberapa negara kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut membuat pasokan minyak global berada dalam sorotan tajam. Kekhawatiran utama pasar tertuju pada keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 13 hingga 15 juta barel minyak per hari, atau hampir 20 persen dari total pasokan minyak dunia.

Mengutip laporan CNBC, pendiri sekaligus Direktur Riset Energy Aspects, Amrita Sen, memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran USD 80 per barel dalam waktu dekat. Menurutnya, kemungkinan Selat Hormuz ditutup sepenuhnya tergolong kecil, namun risiko serangan sporadis terhadap kapal tanker justru lebih mengkhawatirkan.

“AS dan Israel memiliki kekuatan militer yang cukup untuk mencegah penutupan total Selat Hormuz. Namun, serangan tunggal terhadap kapal jauh lebih sulit dicegah dan bisa berdampak besar pada distribusi minyak,” ujar Sen kepada CNBC.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami insiden, membuat para pengirim minyak ekstra waspada untuk memasuki pelabuhan di kawasan tersebut. Situasi ini terutama berdampak pada negara-negara Asia yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.

Sen menambahkan, beberapa negara sebenarnya memiliki jalur alternatif. Oman dan Uni Emirat Arab, misalnya, dapat memanfaatkan jaringan pipa tertentu untuk menghindari Selat Hormuz. Arab Saudi pun disebut telah menyiapkan rencana darurat dengan menyalurkan minyak melalui pipa timur-barat menuju Laut Merah.

Namun, solusi tersebut dinilai belum cukup. “Bahkan jika sekitar 5 juta barel bisa dialihkan melalui jalur lain, masih ada sekitar 10 juta barel minyak per hari yang berisiko terhambat,” jelasnya.

Lebih jauh, Sen memperingatkan bahwa dampak akan jauh lebih besar jika konflik mulai menyasar infrastruktur energi. Dalam skenario terburuk, harga minyak berpotensi melonjak hingga menembus USD 100 per barel. “Risikonya terlalu tinggi jika infrastruktur energi ikut menjadi target serangan,” pungkasnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru