Demonstrasi Meluas di Iran: Kematian Khamenei Picu Ketegangan Baru Timur Tengah


 Demonstrasi Meluas di Iran: Kematian Khamenei Picu Ketegangan Baru Timur Tengah Jutaan warga Iran tumpah ruah ke jalan-jalan di berbagai kota. (tangkapan layar Instagram)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Duka mendalam menyelimuti Iran. Ribuan warga turun ke jalan pada Minggu (1/3/2026) setelah pemerintah mengumumkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Aksi spontan itu pecah serentak di berbagai kota, memantulkan kesedihan sekaligus kemarahan publik. Bendera nasional berkibar, poster Khamenei diangkat tinggi, dan slogan-slogan kecaman menggema di pusat-pusat kota. Ketegangan di Timur Tengah pun kembali memanas.

Di Teheran, ratusan massa memadati Lapangan Inkilap. Mereka berorasi, mengibarkan bendera Iran, serta menyuarakan duka atas kepergian sosok yang selama puluhan tahun menjadi simbol kepemimpinan negara. Suasana serupa tampak di Qom, kota suci yang menjadi pusat studi keislaman. Di sekitar Makam Hazrat Masume, warga berkumpul untuk mengecam serangan dan mendoakan para korban.

Sementara itu, di Mashhad, tanda berkabung terlihat jelas. Bendera hitam dibentangkan di atas kubah Makam Imam Reza, salah satu situs paling dihormati di Iran. Banyak pelayat tampak meneteskan air mata, berdoa dalam hening, dan menyampaikan salam perpisahan.

Media pemerintah Iran menegaskan Khamenei gugur saat berada di kantornya di Teheran pada Sabtu pagi, ketika serangan terjadi. Mereka membantah klaim bahwa ia bersembunyi di bawah tanah, seraya menekankan bahwa sang pemimpin “sedang menjalankan tugas dan berada di tengah masyarakat” hingga saat-saat terakhir. Pemerintah menyebut kematiannya sebagai “kemartiran” dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari, dengan tujuh hari pertama sebagai hari libur resmi.

Dampak serangan tersebut tidak hanya merenggut nyawa Khamenei. Sumber-sumber Iran melaporkan sejumlah anggota keluarganya—termasuk putri, menantu, cucu, dan menantu perempuan—ikut menjadi korban. Bulan Sabit Merah Iran juga mencatat korban sipil yang luas: sedikitnya 201 orang tewas dan 747 lainnya luka-luka.

Gelombang demonstrasi ini menunjukkan betapa besar pengaruh Khamenei di mata publik Iran. Di tengah duka, suara kemarahan menyatu dengan doa, menandai babak baru yang penuh ketidakpastian bagi kawasan Timur Tengah.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru