Loading
PM India Narendra Modi (kiri) saat bertemu dengan Presiden AS Donald Trump beberapa waktu lalu. (Google)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Rencana pembicaraan perdagangan antara India dan Amerika Serikat yang semula digelar pekan ini ditunda. Penundaan dilakukan setelah putusan Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global yang diberlakukan pemerintahan Donald Trump. Seorang pejabat Kementerian Perdagangan India mengatakan kedua pihak masih “mempelajari implikasi” putusan tersebut—dilaporkan BBC dan dikutip media ini.
Delegasi India sejatinya dijadwalkan berangkat ke Washington untuk memfinalisasi kesepakatan dagang sementara yang diumumkan awal bulan ini. Dalam kesepakatan itu, tarif AS atas barang-barang India disebut turun dari 50% menjadi 18%, meski sejumlah detail masih belum terang.
Namun, putusan pengadilan memunculkan ketidakpastian baru. Trump menyatakan akan memberlakukan tarif global 15% untuk seluruh barang impor ke AS—angka maksimum yang diklaim diizinkan oleh undang-undang perdagangan tertentu. Dampaknya terhadap perjanjian dagang yang tengah berjalan dengan berbagai negara, termasuk India, belum jelas.
Situasi ini datang di tengah tekanan berbulan-bulan bagi eksportir India yang sebelumnya harus menanggung tarif 50% sejak 27 Agustus. Tarif tersebut juga memuat penalti terkait pembelian minyak Rusia—isu yang lama menjadi sorotan Trump.
Sebelumnya, pada 2 Februari, Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan dagang sementara setelah panggilan telepon dengan Perdana Menteri Narendra Modi, yang sempat menenangkan pasar India. Dalam kerangka itu, India berjanji menurunkan tarif standar atas seluruh barang industri AS serta beberapa produk pangan dan pertanian. Sebagai imbalan, AS setuju menurunkan tarif timbal balik untuk sekitar 55% ekspor India menjadi 18%.
Meski demikian, kesepakatan tersebut memantik pertanyaan: apakah konsesi India lebih besar dari manfaat yang diterima, apakah New Delhi akan menghentikan pembelian minyak Rusia, serta realistiskah target pembelian barang AS senilai US$500 miliar dalam lima tahun. Di dalam negeri, serikat petani India juga menyuarakan kekhawatiran atas potensi dampak pemotongan tarif impor pertanian AS.
Menanggapi hal itu, Menteri Perdagangan India Piyush Goyal menegaskan tidak ada konsesi untuk produk susu, hasil rekayasa genetika, daging, maupun unggas. Ia memastikan perlindungan bagi petani tetap diberlakukan.
Pekan lalu, Goyal menyebut kesepakatan bisa mulai berlaku April setelah isu-isu tersisa dirampungkan dalam kunjungan delegasi ke Washington. Namun, dinamika berubah usai putusan Mahkamah Agung pada Jumat yang menyatakan Trump melampaui kewenangan dengan menggunakan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional 1977 untuk memberlakukan tarif global luas—pukulan bagi agenda masa jabatan keduanya.
Ketidakpastian makin dalam ketika Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif global menjadi 15%. “Kedua pihak memutuskan menunda pembicaraan sampai implikasi perkembangan terbaru ini dipelajari,” ujar pejabat Kementerian Perdagangan India kepada BBC. Sementara itu, Reuters melaporkan belum ada tanggal baru untuk keberangkatan delegasi India yang semula dijadwalkan Minggu ini.