Trump Murka, Putusan Mahkamah Agung Soal Tarif Disebut Memalukan


 Trump Murka, Putusan Mahkamah Agung Soal Tarif Disebut Memalukan Presiden Donald Trump. (Foto: ABC News)

WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahannya terhadap enam hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat setelah lembaga tersebut membatalkan kebijakan tarif global yang ia terapkan di masa jabatan keduanya.

Putusan yang diumumkan pada Jumat waktu setempat itu menjadi salah satu pukulan politik paling telak bagi Trump. Ia menyebut keputusan tersebut “sangat mengecewakan” dan secara terbuka menuding para hakim mayoritas sebagai pihak yang seharusnya merasa malu.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, hanya beberapa jam setelah putusan dirilis, Trump tak menyembunyikan kekecewaannya. Dengan nada keras, ia mengatakan dirinya “malu” pada sejumlah anggota Mahkamah Agung yang dinilainya tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal yang benar bagi Amerika Serikat.

Menurut Trump, keputusan tersebut secara langsung menyatakan bahwa presiden tidak memiliki kewenangan inheren untuk memberlakukan tarif besar-besaran terhadap negara lain. Ia menilai putusan itu keliru dan berpotensi merugikan kepentingan nasional.

Selama hampir 45 menit berbicara di hadapan wartawan, Trump berulang kali mengkritik Mahkamah Agung. Ia juga menegaskan tidak akan berhenti begitu saja, dan mengklaim akan mencari cara lain agar kebijakan tarif tetap bisa diterapkan, meski melalui mekanisme yang berbeda.

Menariknya, kemarahan Trump tidak ditujukan pada satu kubu politik tertentu. Enam hakim yang membatalkan kebijakan tarif tersebut berasal dari spektrum ideologi yang berimbang—tiga hakim liberal dan tiga hakim konservatif dikutip Antara.

Dari kubu Demokrat, terdapat Elena Kagan, Sonia Sotomayor, dan Ketanji Brown Jackson. Sementara dari kubu Republik, pendapat mayoritas ditulis oleh Ketua Mahkamah Agung John Roberts, bersama Neil Gorsuch dan Amy Coney Barrett, yang keduanya merupakan hakim pilihan Trump saat masa jabatan pertamanya.

Namun bagi Trump, afiliasi politik tampaknya tak lagi relevan. Ia menyerang seluruh hakim tersebut tanpa kecuali, menandai eskalasi ketegangan yang jarang terjadi antara presiden dan lembaga yudikatif—dua cabang kekuasaan yang sejatinya setara dalam sistem demokrasi Amerika Serikat.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru