Loading
Sekutu Eropa Menjauh dari Dewan Perdamaian bentukan Trump. (Foto ilustrasi: Whitehouse.gov)
WASHINGTON, ARAHKITA.COM - Pertemuan perdana Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS memicu sorotan tajam, setelah sejumlah sekutu utama menolak hadir dan mempertanyakan tujuan sebenarnya forum tersebut.
Puluhan pemimpin dunia dijadwalkan berkumpul di Washington pada Kamis waktu setempat untuk menghadiri pertemuan pertama Dewan Perdamaian yang digagas Donald Trump. Namun forum tersebut langsung diwarnai keraguan internasional karena absennya negara-negara sekutu utama Amerika Serikat.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dilansir The Guardian, menolak undangan, diikuti keputusan Inggris, Jerman, dan Prancis untuk tidak bergabung. Trump bahkan mencabut undangan untuk Perdana Menteri Kanada Mark Carney setelah pidato kritiknya di Forum Ekonomi Dunia.
Penolakan tambahan muncul dari Vatikan. Paus Leo XIV menyatakan tak akan berpartisipasi, sementara pejabat tinggi Takhta Suci Pietro Parolin menegaskan krisis internasional seharusnya tetap ditangani oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dukungan Terbatas
Meski sejumlah sekutu Barat absen, pertemuan tetap dihadiri delegasi Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Turki, Yordania, dan Qatar, serta negara lain yang dinilai ingin mempererat hubungan dengan pemerintahan Trump. Beberapa pihak disebut tertarik karena rencana kursi tetap dewan yang dikaitkan dengan kontribusi dana besar.
Direktur proyek Israel-Palestina di International Crisis Group, Max Rodenbeck, menilai kredibilitas forum akan diuji cepat. Jika tidak ada dampak nyata terutama di bidang kemanusiaan, menurutnya, kepercayaan global bisa runtuh.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sebelumnya menyetujui gagasan tersebut memilih tidak hadir. Sebagai gantinya, Menteri Luar Negeri Gideon Saar mewakili Israel. Keputusan itu dinilai terkait dinamika politik domestik menjelang pemilu serta tekanan dari faksi sayap kanan.
Sejauh ini, perkembangan di lapangan menunjukkan belum ada kemajuan signifikan dari inisiatif perdamaian yang dikaitkan dengan Trump dalam mengakhiri konflik maupun memperbaiki kondisi kemanusiaan di Gaza.
Mandat Meluas, Kepercayaan Menyusut
Dewan tersebut awalnya difokuskan pada pembangunan kembali Gaza, tetapi kemudian diperluas cakupannya untuk menangani konflik global lain. Meski begitu, banyak pihak menilai arah organisasi masih kabur.
Pemerintah Gedung Putih menyebut agenda itu sebagian besar akan berfungsi sebagai penggalangan dana global. Trump mengklaim sejumlah negara telah menjanjikan lebih dari 5 miliar dolar AS untuk rekonstruksi Gaza yang hancur akibat perang dengan Israel. Ia juga menyatakan anggota dewan siap mengerahkan ribuan personel untuk pasukan stabilisasi internasional.
Peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, Aaron David Miller, menilai dewan akan kesulitan menjawab pertanyaan mendasar konflik: siapa yang memerintah Gaza, siapa menjamin keamanan, dan bagaimana kebutuhan warga Palestina dipenuhi. Ia menegaskan janji bantuan besar belum tentu berarti realisasi nyata di lapangan.
Keraguan juga datang dari Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menolak undangan, diikuti keputusan Inggris, Jerman, dan Prancis untuk tidak bergabung. Trump bahkan mencabut undangan untuk Perdana Menteri Kanada Mark Carney setelah pidato kritiknya di Forum Ekonomi Dunia.
Penolakan tambahan muncul dari Vatikan. Paus Leo XIV menyatakan tak akan berpartisipasi, sementara pejabat tinggi Takhta Suci Pietro Parolin menegaskan krisis internasional seharusnya tetap ditangani oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.