Air Canada Setop Seluruh Penerbangan ke Kuba, Dampak Blokade Minyak AS


 Air Canada Setop Seluruh Penerbangan ke Kuba, Dampak Blokade Minyak AS Air Canada Setop Seluruh Penerbangan ke Kuba, Dampak Blokade Minyak AS. (Foto ilustrasi: Air Canada.com)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Air Canada membatalkan seluruh penerbangan ke Kuba setelah otoritas negara kepulauan itu menyatakan pasokan bahan bakar penerbangan hampir habis. Krisis ini disebut sebagai dampak langsung dari blokade minyak Amerika Serikat terhadap Kuba, yang kian mempersempit akses negara tersebut terhadap pasokan energi.

Maskapai asal Kanada itu, dilansir The Guardian, menyatakan akan memulangkan sekitar 3.000 penumpang yang saat ini berada di Kuba. Keputusan tersebut menjadi pukulan besar bagi sektor pariwisata Kuba, mengingat wisatawan Kanada merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar, terutama pada musim liburan musim dingin.

Gangguan penerbangan tidak hanya dialami Air Canada. Sejumlah maskapai dari Rusia, Tiongkok, Turki, Prancis, dan Spanyol juga terdampak keterbatasan pasokan avtur. Krisis ini berkembang cepat seiring meningkatnya tekanan Washington terhadap Havana, dengan sejumlah tokoh pemerintahan Amerika Serikat secara terbuka mendorong perubahan rezim di Kuba.

Amerika Serikat sebelumnya mengancam akan menaikkan tarif terhadap negara mana pun yang mengirimkan minyak ke Kuba, dengan alasan keamanan nasional. Kebijakan tersebut menuai kritik dari berbagai pihak. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyebut langkah AS sebagai tindakan yang sangat tidak adil dan tidak manusiawi. Meksiko bahkan telah mengirimkan ratusan ton bantuan kemanusiaan dan menyatakan akan menempuh jalur diplomatik untuk tetap dapat menyalurkan minyak ke Kuba.

Besarnya krisis terungkap ketika maskapai menerima pemberitahuan resmi penerbangan atau NOTAM yang menyebutkan bahwa pasokan bahan bakar akan tetap dibatasi setidaknya hingga 11 Maret. Informasi ini muncul hanya beberapa hari setelah otoritas Kuba sebelumnya menenangkan publik dengan menyatakan penerbangan internasional tetap berjalan.

Di Rusia, calon wisatawan mengeluhkan pembatalan mendadak dan ditawari destinasi alternatif seperti Mesir, Turki, atau Tiongkok. Kuba selama ini menjadi salah satu tujuan utama wisatawan Rusia karena keterbatasan perjalanan internasional akibat situasi keamanan.

Beberapa maskapai mencoba beradaptasi. Aeroflot menyatakan penerbangan ke Kuba masih akan beroperasi dengan penyesuaian rute dan pemberhentian teknis untuk pengisian bahan bakar. Maskapai Eropa seperti Air Europa memilih berhenti mengisi bahan bakar di negara ketiga, sementara Air Transat menyatakan tetap terbang dengan langkah darurat serupa.

Di dalam negeri, dampak krisis semakin terasa. SPBU di berbagai wilayah ditutup, lalu lintas menurun drastis, dan warga diminta mendaftar antrean bahan bakar melalui aplikasi digital yang justru menuai keluhan karena sulit diakses. Sementara itu, sektor pariwisata mulai melakukan penghematan energi dengan memusatkan wisatawan di hotel tertentu, memicu kekhawatiran akan hilangnya mata pencaharian pekerja lokal.

Krisis bahan bakar ini menjadi dampak nyata pertama dari blokade minyak AS terhadap Kuba dan langsung menghantam salah satu sumber pendapatan utama negara tersebut. Pendapatan pariwisata yang pernah mencapai lebih dari tiga miliar dolar AS per tahun kini diperkirakan merosot di bawah satu miliar dolar, memperdalam krisis ekonomi yang sudah lama membelit Kuba.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru