Loading
Foto yang diambil dari atas Monumen Washington pada 17 November 2025 menunjukkan AS Gedung Capitol di Washington, DC, Amerika Serikat. ANTARA/Xinhua/Hu Yousong
BEIJING, ARAHKITA.COM – Gelombang kejut dari publikasi berkas-berkas terbaru Jeffrey Epstein mulai terasa hingga ke jantung politik Eropa. Dokumen yang mengungkap jejaring sosial mendiang pemodal Amerika Serikat itu menyeret sejumlah nama penting, memicu pengunduran diri pejabat, dan membuka kembali perdebatan tentang etika kekuasaan.
Di Norwegia, Kementerian Luar Negeri pada Minggu (8/2/2026) mengonfirmasi bahwa Mona Juul, duta besar Norwegia untuk Yordania yang juga merangkap di Irak, resmi meletakkan jabatan. Keputusan itu diambil setelah terungkap bahwa Juul pernah berkomunikasi dengan Epstein, pelaku kejahatan seksual yang telah divonis bersalah.
Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide menilai langkah tersebut tidak terhindarkan. Menurutnya, kontak Juul dengan Epstein mencerminkan kegagalan penilaian yang serius dan sulit dipulihkan dalam konteks kepercayaan publik.
Sebelum mundur, Juul sempat diberhentikan sementara ketika kementerian melakukan peninjauan internal. Pemerintah Norwegia menegaskan bahwa investigasi tetap berlanjut meski yang bersangkutan sudah tak lagi menjabat. Fokus penyelidikan diarahkan pada kepatuhan aturan bagi pegawai negara, baik yang masih aktif maupun mantan pejabat.
Krisis di Lingkaran Perdana Menteri Inggris
Dampak serupa terjadi di Inggris. Morgan McSweeney mengundurkan diri dari posisi kepala staf Perdana Menteri Keir Starmer setelah dituding berperan dalam penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat. Sky News melaporkan, keputusan itu diambil di tengah tekanan publik terkait munculnya kembali nama Mandelson dalam berkas Epstein.
Mandelson (72) baru tujuh bulan menjabat sebagai duta besar di Washington sebelum akhirnya diberhentikan Starmer. Polisi Inggris bahkan telah membuka penyelidikan kriminal atas dugaan pelanggaran dalam jabatan publik yang melibatkan penanganan informasi sensitif.
Dalam surat pengunduran dirinya, McSweeney menyampaikan penyesalan terbuka.
"Keputusan untuk menunjuk Peter Mandelson adalah sebuah kesalahan. Dia telah merusak partai kami, negara kami, dan kepercayaan pada politik itu sendiri. Ketika ditanya, saya menyarankan perdana menteri untuk melakukan penunjukan itu dan saya bertanggung jawab penuh atas saran tersebut," tulisnya seperti dikutip media lokal.
Starmer sendiri telah lebih dulu meminta maaf pada Kamis (5/2/2026) lalu. Ia mengakui telah meremehkan dampak hubungan masa lalu Mandelson dengan Epstein dan konsekuensinya terhadap kredibilitas pemerintahan.
Tekanan di Prancis
Badai politik juga menyentuh Prancis. Mantan Menteri Kebudayaan Jack Lang menawarkan pengunduran diri dari jabatan Presiden Institut Dunia Arab di Paris. Media Prancis melaporkan, langkah itu diambil setelah namanya ikut terseret dalam dokumen terbaru Epstein.
Menurut France Info, Lang telah mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot pada Sabtu (7/2/2026). Ia menyebut pengunduran diri itu dimaksudkan untuk “melindungi” lembaga yang dipimpinnya dari polemik berkepanjangan dan apa yang ia sebut sebagai “serangan pribadi”.
Situasi makin pelik karena kantor kejaksaan keuangan nasional Prancis pada Jumat membuka penyelidikan awal terhadap Lang dan putrinya atas dugaan penipuan pajak berat serta pencucian uang.
Jutaan Halaman Terbuka
Departemen Kehakiman AS pada 30 Januari lalu mengumumkan publikasi tambahan jutaan halaman dokumen berdasarkan “Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein”. Total pengungkapan kini mencapai hampir 3,5 juta halaman, disertai ribuan video dan gambar.
Ledakan informasi ini memperluas sorotan terhadap jaringan Epstein dan menghidupkan kembali tekanan politik di banyak negara. Berbagai pihak menuntut kejelasan sejauh mana relasi para elite dengan sosok yang lama menjadi simbol gelap penyalahgunaan kekuasaan dilansir Antara.
Dari Moskow, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov turut berkomentar keras. Ia menyebut berkas tersebut telah mengungkap apa yang disebutnya sebagai "satanisme murni" dari elit Barat dan mengekspos sifat asli Barat.
Publikasi dokumen Epstein tampaknya belum mencapai babak akhir. Setiap halaman baru berpotensi membuka skandal baru, menggoyahkan reputasi lama, dan memaksa dunia politik menghadapi pertanyaan paling mendasar: seberapa jauh kekuasaan selama ini bersentuhan dengan sisi tergelapnya sendiri?