Kamis, 05 Februari 2026

Patung Columbus Akan Berdiri di Gedung Putih, Sejarah atau Provokasi?


 Patung Columbus Akan Berdiri di Gedung Putih, Sejarah atau Provokasi? Patung Christopher Colombus. (Shutterstocks)

WASHINGTON, ARAHKITA.COM - Donald Trump kembali membuat langkah yang mengundang perhatian publik Amerika. Presiden ke-47 itu dikabarkan berencana memasang patung Christopher Columbus di area luar Gedung Putih. Rencana tersebut disebut sebagai bagian dari upaya Trump menegaskan kembali penghormatan terhadap sosok penjelajah abad ke-15 yang selama ini dipandang kontroversial.

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan internal, patung itu akan ditempatkan di sisi selatan kompleks Gedung Putih, tak jauh dari Ellipse. Namun, lokasi final masih bisa berubah mengikuti pertimbangan teknis dan politik. Gedung Putih sendiri belum memberikan konfirmasi resmi, meski juru bicara presiden menegaskan bahwa Columbus tetap dianggap sebagai pahlawan oleh Trump.

Patung yang akan dipasang bukanlah karya baru. Ini merupakan rekonstruksi dari patung Columbus yang pernah berdiri di Baltimore dan dirobohkan demonstran pada 2020, saat gelombang protes anti-rasisme meluas di Amerika. Sisa-sisa patung itu kemudian dikumpulkan oleh sekelompok pengusaha dan tokoh Italia-Amerika, lalu dipugar dengan dukungan dana swasta dan hibah pemerintah.

Bill Martin, salah satu inisiator pemulihan patung tersebut, menyebut proses restorasi memakan biaya lebih dari 100 ribu dolar AS. Baginya, patung itu bukan sekadar monumen masa lalu, melainkan simbol perjalanan panjang imigran Italia yang mencari kehidupan baru di Amerika. “Ini bukan soal Columbus menemukan Amerika, tapi tentang kebanggaan komunitas Italia-Amerika yang melihatnya sebagai figur inspiratif,” ujarnya.

Columbus: Pahlawan atau Luka Sejarah?

Nama Columbus memang selalu membelah opini. Di satu sisi, ia dipuji sebagai pelaut yang membuka jalur Eropa menuju benua Amerika pada 1492. Di sisi lain, kedatangannya dianggap sebagai pintu masuk kolonialisme, perbudakan, dan penderitaan panjang masyarakat pribumi.

Sejumlah negara bagian AS bahkan telah mengganti peringatan Hari Columbus menjadi Hari Masyarakat Adat. Pada 2021, pemerintahan sebelumnya untuk pertama kalinya secara resmi mengakui hari tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada komunitas pribumi.

Trump memilih arah berbeda. Dalam kampanyenya, ia berjanji mengembalikan pamor Hari Columbus dan menilai gerakan perobohan patung sebagai upaya menghapus sejarah. Oktober lalu ia menandatangani proklamasi yang menyebut Columbus sebagai “pahlawan Amerika asli” dan mengajak warga keturunan Italia untuk mengingat sikapnya saat memberikan suara politik.

“Orang Italia senang dengan keputusan ini. Saya telah mengembalikan Hari Columbus,” kata Trump di hadapan wartawan Gedung Putih. Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa isu identitas etnis masih akan dimainkan dalam peta politik Amerika ke depan.

Jejak Perubahan Wajah Gedung Putih

Pemasangan patung Columbus bukan satu-satunya proyek Trump di kawasan Gedung Putih. Sejak kembali berkuasa, ia melakukan sejumlah perubahan fisik yang dinilai ambisius, mulai dari pembangunan ruang dansa baru, penataan ulang taman, hingga renovasi beberapa ruangan bersejarah.

Langkah-langkah tersebut memicu kritik dari para pelestari sejarah. Mereka meminta setiap perubahan di kompleks kepresidenan melalui mekanisme peninjauan federal agar tidak menghilangkan nilai historis bangunan.

Pada periode pertama kepemimpinannya, Trump juga vokal mengecam perusakan patung Columbus di berbagai kota. Pemerintah saat itu sempat berniat mengambil patung Baltimore untuk ditempatkan di lahan federal, namun proses restorasi belum rampung.

Kini, setelah patung selesai dipugar, jalan menuju Washington tampak semakin terbuka. Sejumlah politikus Partai Republik menyambut positif rencana tersebut. Mereka menilai pemasangan kembali patung menjadi bukti bahwa keputusan sejarah tidak boleh ditentukan oleh aksi massa dilansir dari laman The Washington Post.

Simbol yang Terus Diperebutkan

Bagi pendukungnya, patung Columbus adalah pengakuan terhadap kontribusi imigran Italia dan warisan Barat. Namun bagi kelompok lain, monumen itu mengingatkan pada kekerasan kolonial yang dampaknya masih terasa hingga kini.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa sejarah di Amerika bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan ruang tarik-menarik kepentingan identitas dan politik masa kini. Apakah patung Columbus akan benar-benar berdiri di halaman Gedung Putih? Waktu yang akan menjawab.

Yang jelas, langkah Trump kembali menegaskan satu hal: perang tafsir atas sejarah Amerika belum akan selesai dalam waktu dekat.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru