Kamis, 05 Februari 2026

PHK Besar Washington Post: Krisis Media Lama di Tengah Gempuran AI


 PHK Besar Washington Post: Krisis Media Lama di Tengah Gempuran AI The Washington Post Building di DC. (Andrew Harnik/Getty Images North America/Getty Images/CNN.com)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Dunia media kembali diguncang. Washington Post, salah satu surat kabar paling berpengaruh di Amerika Serikat, mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja dalam skala besar. Sekitar sepertiga tenaga kerja akan terdampak, disertai pengurangan signifikan pada liputan olahraga dan berita luar negeri.Keputusan ini diumumkan manajemen pada Rabu waktu setempat dan langsung memicu reaksi keras dari internal redaksi. Pemangkasan terjadi di hampir semua departemen, namun sektor liputan internasional, lokal, dan olahraga disebut paling terpukul.

Editor eksekutif Matt Murray menyebut langkah pahit tersebut sebagai upaya mencari “stabilitas” di tengah perubahan lanskap industri media. Menurutnya, model bisnis lama tak lagi cukup untuk menopang operasional di era digital yang semakin didominasi kecerdasan buatan.

“Berita hari ini memang menyakitkan. Ini keputusan sulit, tapi perlu dilakukan,” tulis Murray dalam memo kepada karyawan. Ia menegaskan bahwa Washington Post harus berani menciptakan ulang cara kerja jurnalismenya jika ingin tetap relevan, bukan sekadar bertahan hidup.

Lalu Lintas Digital Anjlok

Manajemen mengakui, dalam tiga tahun terakhir jumlah pembaca daring Washington Post merosot tajam. Algoritma platform digital berubah cepat, sementara minat publik bergeser ke konten berbasis video, media sosial, dan layanan informasi berbantuan AI.

Murray juga menyinggung bahwa produk jurnalistik Washington Post terlalu lama terjebak pada pola lama. “Kita terlalu sering menulis dari satu sudut pandang, untuk segmen audiens yang sama,” ujarnya.

Situasi ini berbanding terbalik dengan pesaing utama mereka. Pada periode yang sama, The New York Times justru melaporkan lonjakan pelanggan digital hingga ratusan ribu orang, memperlihatkan jurang performa yang makin lebar.

Gelombang Protes dari Ruang Redaksi

Pengumuman PHK disambut kemarahan para jurnalis. Serikat pekerja Washington Post Guild menyebut kebijakan itu hanya akan memperlemah kualitas media dan menggerus kepercayaan publik.

“Pemutusan hubungan kerja berulang tidak akan menyelamatkan perusahaan. Yang terjadi justru pembaca akan pergi dan misi jurnalistik rusak,” tulis pernyataan resmi mereka.

Di media sosial, sejumlah reporter mengungkapkan kekecewaan mendalam. Beberapa koresponden mengaku kehilangan seluruh tim liputan Timur Tengah, sementara jurnalis yang bertugas di Ukraina harus angkat kaki di tengah situasi perang yang masih berkecamuk.

Bagian metro yang selama ini menjadi jantung informasi lokal di Washington DC juga dikabarkan ikut dipangkas besar-besaran. Bagi banyak wartawan, keputusan ini seperti memutus nadi utama identitas Washington Post.

Bayang-Bayang Keputusan Bezos

Surat kabar ini berada di bawah kepemilikan Jeff Bezos sejak 2013. Selama satu dekade, ia kerap mempromosikan pentingnya pers bebas. Namun sejumlah kebijakannya belakangan menuai kontroversi.

Salah satu yang paling disorot adalah keputusan Washington Post untuk tidak memberikan dukungan kepada kandidat mana pun pada pemilihan presiden AS 2024. Langkah itu memutus tradisi puluhan tahun dan membuat puluhan ribu pelanggan membatalkan langganan.

Mantan editor Marty Baron menyebut hari pengumuman PHK sebagai salah satu momen paling kelam dalam sejarah media tersebut. Ia mengaku sulit menemukan semangat pembelaan terhadap pers yang dulu sering disuarakan pemiliknya dilaporkan dan dilansir dari bbc.com

Tantangan Besar Media Arus Utama

Krisis yang dialami Washington Post mencerminkan persoalan lebih luas: media konvensional tengah berjuang keras menghadapi disrupsi teknologi. Iklan digital didominasi platform raksasa, sementara pola konsumsi informasi berubah drastis.

Manajemen menegaskan bahwa restrukturisasi ini bertujuan mempertajam fokus dan memperkuat posisi perusahaan. Namun bagi banyak jurnalis, masa depan Washington Post kini terasa makin tak pasti.

Di tengah gempuran AI dan perubahan perilaku pembaca, pertanyaan besar mengemuka: apakah media legendaris ini mampu menemukan jalan baru, atau justru semakin kehilangan arah?

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru