Kamis, 29 Januari 2026

Salju 70 Cm dan Suhu -23 Derajat, Jepang Hadapi Pemilu Musim Dingin Paling Ekstrem dalam 36 Tahun


 Salju 70 Cm dan Suhu -23 Derajat, Jepang Hadapi Pemilu Musim Dingin Paling Ekstrem dalam 36 Tahun Badan Meteorologi Jepang (JMA) pada Sabtu (24/1/2026), mengeluarkan peringatan serius bagi warga di Prefektur Fukui, khususnya di Kota Katsuyama dan Ono. Massa udara dingin yang ekstrem diprediksi akan bertahan hingga Minggu (25/1/2026). (Foto: The Japan News/The Yomiuri Shimbun)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Jepang tengah bersiap menghadapi salah satu gelombang musim dingin paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir. Badai salju tebal dan suhu yang anjlok hingga -23 derajat Celcius diperkirakan akan melanda sejumlah wilayah, hanya beberapa hari menjelang pemilihan umum sela yang dijadwalkan berlangsung 8 Februari.

Badan Meteorologi Jepang memproyeksikan curah salju bisa mencapai 70 sentimeter di wilayah Hokuriku dan sekitar 60 sentimeter di kawasan Kansai hingga akhir pekan ini. Sementara itu, wilayah utara diprediksi mengalami suhu ekstrem yang berpotensi mengganggu aktivitas publik, termasuk jalannya kampanye dan proses pemungutan suara.

Pemilu kali ini mencatat sejarah tersendiri. Untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, Jepang menggelar pemilihan majelis rendah di puncak musim dingin. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius, terutama soal akses pemilih ke tempat pemungutan suara dan kesiapan petugas pemilu di daerah terdampak salju.

Peringatan pun telah dikeluarkan otoritas setempat. Risiko gangguan transportasi, longsoran salju, hingga pemadaman listrik diperkirakan meningkat. Situasi tersebut dinilai bisa menurunkan tingkat partisipasi pemilih, khususnya di wilayah pedesaan dan daerah bersalju yang selama ini menjadi kantong suara penting.

Di wilayah utara seperti Hokkaido, suhu telah turun jauh di bawah titik beku. Kota Rikubetsu bahkan mencatat suhu -22,9 derajat Celcius, sementara badai salju terus menghambat aktivitas harian warga. Pekan lalu, cuaca ekstrem juga sempat melumpuhkan bandara utama di pulau tersebut, menyebabkan ribuan penumpang terdampar akibat pembatalan puluhan penerbangan.

Dampak cuaca tak berhenti di sektor transportasi. Sejumlah persiapan pemilu ikut tersendat. Di prefektur Fukui dan Aomori, papan reklame kampanye kandidat tertutup salju tebal. Beberapa pemerintah daerah bahkan terpaksa mengurangi jumlah papan resmi karena lokasi pemasangan sulit dijangkau.

Kondisi serupa terjadi di Sapporo, yang mencatat rekor salju tertinggi sepanjang Januari setelah 54 sentimeter salju turun hanya dalam satu hari. Tim kampanye mengaku distribusi selebaran dan mobilisasi kendaraan kampanye mengalami keterlambatan. Sejumlah kandidat pun diperkirakan kesulitan memulai kampanye tepat waktu.

“Pemilu di tengah kondisi seperti ini benar-benar berat,” ujar seorang staf kampanye berusia 59 tahun di daerah pemilihan Aomori, menggambarkan tantangan yang dihadapi tim lapangan dikutip The Independent.

Beberapa pemerintah prefektur mulai melakukan penyesuaian. Di Fukushima, jam operasional tempat pemungutan suara di sejumlah kota diubah—pembukaan ditunda untuk memberi waktu pembersihan salju, sementara penutupan dimajukan agar logistik pemilu bisa diangkut dengan aman.

Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang mengumumkan pemilu ini kurang dari empat bulan setelah menjabat, mengakui bahwa keputusan tersebut membawa tantangan tersendiri. Ia menyampaikan apresiasi kepada warga di wilayah bersalju yang tetap berupaya menggunakan hak pilihnya meski dihadapkan pada kondisi jalan yang berat dan cuaca ekstrem.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru