Loading
Kucing penghuni kediaman Perdana Menteri Inggris, Larry berdiam di depan pintu Downing Street 10, London, Inggris. (Antara)
ISTANBUL, ARAHKITA.COM – Hubungan Inggris dan China kembali menjadi sorotan setelah media Inggris The Telegraph, Senin (26/1/2026) melaporkan dugaan peretasan ponsel yang menargetkan para ajudan dekat perdana menteri Inggris. Aksi tersebut diduga dilakukan oleh peretas yang mendapat dukungan dari negara China.
Laporan itu muncul di tengah rencana kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke China pekan ini, yang akan menjadi kunjungan pertama kepala pemerintahan Inggris ke Beijing sejak 2018.
Menurut The Telegraph, sejumlah ponsel milik pejabat senior di lingkungan Downing Street diduga telah disusupi selama bertahun-tahun. Operasi peretasan ini disebut memiliki nama sandi “Salt Typhoon” dan menargetkan lingkaran terdekat mantan perdana menteri Inggris, termasuk Boris Johnson, Liz Truss, dan Rishi Sunak, yang menjabat dalam rentang 2021 hingga 2024.
Meski belum ada kepastian apakah perangkat pribadi para perdana menteri ikut terdampak, laporan tersebut menyebut bahwa kebocoran keamanan itu telah menjalar hingga “langsung ke jantung Downing Street”.
Ancaman spionase ini sebelumnya juga disinggung oleh badan intelijen domestik Inggris, MI5. Pada November lalu, MI5 dikabarkan mengeluarkan peringatan kepada parlemen terkait meningkatnya aktivitas spionase yang dikaitkan dengan China.
Sampai saat ini, pemerintah China belum memberikan tanggapan langsung atas laporan media Inggris tersebut. Namun, Beijing sebelumnya telah merespons keras langkah London yang menjatuhkan sanksi terhadap dua perusahaan teknologi asal China bulan lalu.
Pemerintah Inggris menuding kedua perusahaan itu terlibat dalam serangan siber yang bersifat sembrono dan menyasar Inggris serta negara-negara sekutunya. Tuduhan tersebut langsung dibantah oleh Beijing.
“China dengan tegas menentang dan memberantas segala bentuk aktivitas peretasan sesuai hukum. Pada saat yang sama, kami menolak penyebaran informasi palsu yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Isu peretasan ini berpotensi menjadi salah satu topik sensitif dalam agenda kunjungan Keir Starmer ke China, di tengah upaya kedua negara menjaga stabilitas hubungan diplomatik dan ekonomi.
Sumber: Anadolu