Loading
Donald Trump menjawab pertanyaan dari anggota media selama pertemuan dengan para eksekutif minyak dan gas di Ruang Timur Gedung Putih pada 9 Januari 2026 di Washington DC. (Foto: Getty Images)
TOKYO, ARAHKITA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menarik kembali ancamannya untuk mengenakan tarif impor sebesar 10% terhadap barang dari delapan negara Eropa mulai Februari. Keputusan itu diumumkan pada Rabu (21/1/2026), tak lama setelah rencana kontroversialnya terkait pengambilalihan Greenland dari Denmark kembali menuai penolakan.
Meski melunak soal tarif, Trump belum mundur dari ambisinya. Ia kembali menegaskan keinginannya agar Amerika Serikat dapat “mengakuisisi” Greenland—wilayah semi-otonom di kawasan Arktik—dengan alasan kepentingan keamanan nasional. Dalam pernyataannya, Trump menyinggung meningkatnya pengaruh China dan Rusia di wilayah utara dunia yang dinilai strategis.
Namun, Trump juga mencoba meredakan kekhawatiran publik internasional. Ia menepis opsi penggunaan kekuatan militer untuk merebut Greenland. Menurutnya, jalan tersebut hanya akan menimbulkan risiko besar dan tidak akan ditempuh pemerintahannya.
Pernyataan itu muncul setelah Trump bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss. Usai pertemuan, Trump menulis di media sosial bahwa kedua pihak telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan kawasan Arktik secara lebih luas.
Trump menyebut kerangka tersebut, jika benar-benar terwujud, akan membawa manfaat bukan hanya bagi AS tetapi juga bagi negara-negara anggota NATO. Ia menambahkan bahwa pencabutan ancaman tarif dilakukan seiring dengan berkembangnya pembahasan tersebut.
Meski demikian, Trump mengatakan pembicaraan soal Greenland belum selesai. Ia menyebut masih akan ada pertemuan lanjutan, termasuk untuk membahas sistem pertahanan rudal yang ia sebut Golden Dome.
Dalam pidato panjangnya di Davos, Trump juga mengangkat klaim bahwa banyak negara terlalu bergantung pada AS untuk menjaga stabilitas global. Ia menilai kebijakan luar negeri dan ekonomi pemerintahannya, sejak kembali menjabat setahun lalu, telah menjaga posisi AS sebagai poros perdamaian dan kemakmuran dunia.
Trump bahkan menyebut, seandainya ia memilih menggunakan “kekuatan berlebihan”, AS bisa menjadi negara yang tak terbendung. Tetapi ia menegaskan kembali bahwa ia tidak ingin menggunakan kekuatan dan tidak berniat menempuh jalan itu.
Di sisi lain, ia tetap melancarkan kritik kepada negara-negara Eropa yang menolak rencana aneksasi Greenland. Ia juga mendorong agar NATO segera membuka jalur perundingan mengenai rencana AS terhadap pulau terbesar di dunia tersebut dikutip Antara.
Tak hanya urusan geopolitik, Trump turut membahas ekonomi. Ia mengklaim kesepakatan dagang besar dengan Jepang, sejumlah negara Eropa, dan Korea Selatan telah ikut mendorong pasar saham naik dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Menurut Trump, dampaknya bukan hanya dirasakan Amerika, tetapi juga negara-negara yang terlibat dalam kesepakatan tersebut.
Dalam sesi tanya jawab, Trump juga menyinggung hubungan pribadinya dengan dua tokoh besar dunia: Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia menyebut hubungannya dengan keduanya “sangat baik”. Saat ditanya arah hubungan Washington-Beijing, Trump memuji Xi sebagai pemimpin luar biasa dan mengatakan langkah-langkah Xi selama ini dinilai mengesankan serta mendapat penghormatan luas.