Kamis, 22 Januari 2026

Inggris Tegas soal Greenland: Starmer Tak Gentar Meski Diancam Tarif Trump


 Inggris Tegas soal Greenland: Starmer Tak Gentar Meski Diancam Tarif Trump Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menegaskan bahwa perang dagang tidak akan menguntungkan siapa pun. (theglobal-review.com)

LONDON, ARAHKITA.COM — Pemerintah Inggris menegaskan tidak akan mundur sedikit pun dalam sikapnya terkait masa depan Greenland, meski Amerika Serikat mengancam kebijakan tarif yang bisa menyulitkan ekonomi Inggris dalam beberapa bulan ke depan.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menekankan bahwa negaranya tidak bisa dipaksa menukar prinsip dengan tekanan dagang.

“Saya tidak akan mengalah. Inggris tidak akan mengalah dalam prinsip dan nilai kami mengenai masa depan Greenland di bawah ancaman tarif,” ujar Starmer dalam sesi tanya jawab mingguan Perdana Menteri di House of Commons, Rabu (21/1/2026).

Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan ancaman tarif terhadap barang dari delapan negara Eropa—termasuk Inggris—yang disebut akan mulai berlaku 1 Februari dengan besaran 10%, lalu meningkat menjadi 25% pada Juni.

Yang membuat situasi makin panas, Trump mengaitkan tarif itu dengan tujuan yang jauh dari isu perdagangan: ia menuntut adanya kesepakatan yang ia sebut sebagai “pembelian penuh dan total Greenland” oleh Amerika Serikat.

Greenland, Tarif, dan Tekanan PolitikDi hadapan parlemen, Starmer menyiratkan bahwa ancaman Trump bukan sekadar taktik ekonomi, melainkan tekanan politik langsung—khususnya untuk menggoyang posisi London mengenai Greenland.

Starmer juga menyinggung komentar Trump yang beberapa hari terakhir ikut mengkritik kesepakatan Inggris terkait Kepulauan Chagos. Trump bahkan menyebut kesepakatan itu sebagai “tindakan kebodohan besar”.

Menurut Starmer, kritik semacam itu terasa janggal, karena berbeda dengan nuansa positif yang sebelumnya pernah disampaikan Trump. Ia menilai pernyataan terbaru tersebut dibuat untuk “memberi tekanan” kepada Inggris agar melunak soal Greenland dikutip Antara.

Kesepakatan Chagos Jadi Peluru Politik

Dalam situasi yang memanas ini, Starmer juga menyoroti komentar pemimpin oposisi Inggris dari Partai Konservatif, Kemi Badenoch, yang dinilai memperlemah posisi Inggris dalam menghadapi tekanan eksternal.

Di tengah perdebatan itu, isu Chagos kembali menjadi sorotan karena menyangkut keamanan dan geopolitik. Inggris sebelumnya menandatangani perjanjian untuk menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius, namun tetap mempertahankan operasional pangkalan militer strategis Diego Garcia dalam kerja sama Inggris–AS.

Dalam skema perjanjian itu, Mauritius memperoleh kedaulatan wilayah, sementara Inggris dan Amerika Serikat mempertahankan hak penggunaan pangkalan selama 99 tahun ke depan.

Pesan Starmer: Inggris Tidak Bisa Dibeli

Dari rangkaian pernyataan di parlemen, pesan Starmer jelas: Inggris tidak akan menukar kedaulatan sikap dan nilai politiknya hanya demi menghindari tarif.

Ketegasan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa isu Greenland sudah bergeser—bukan lagi sekadar soal wilayah atau ambisi geopolitik Washington, tetapi juga telah menjadi alat tekanan ekonomi yang bisa mengguncang hubungan transatlantik jika tak dikelola dengan hati-hati.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru