Keir Starmer Bersiap Tolak Undangan Trump Gabung Dewan Perdamaian Gaza


 Keir Starmer Bersiap Tolak Undangan Trump Gabung Dewan Perdamaian Gaza Arsip - Sejumlah warga Palestina terlihat setelah kembali ke wilayah Sheikh Radwan yang hancur di utara Kota Gaza, pada 6 November 2025. (ANTARA/XInhua/Rizek Abdeljawad)

MOSKOW, ARAHKITA.COM – Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dikabarkan tengah menolak tawaran Presiden AS, Donald Trump, untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza. Laporan ini dikutip dari Financial Times pada Selasa (20/1/2026), yang mengacu pada sumber pejabat Inggris.

Starmer sebelumnya menyatakan pada Senin (19/1/2026) bahwa ia masih berdiskusi dengan para sekutu terkait ketentuan dewan tersebut. Namun, menurut sumber anonim dari pemerintah Inggris, Starmer tidak berniat untuk berpartisipasi dalam inisiatif Trump.

“Posisi resmi kami masih mempertimbangkannya. Tapi, Anda tidak perlu menjadi jenius politik untuk menyadari bahwa membayar dana publik sebesar 1 miliar dolar AS hanya untuk duduk di dewan bersama Presiden Rusia Vladimir Putin akan sulit diterima publik,” ujar pejabat tersebut,seperti yang dikutip dari Antara

Ia menambahkan, “Saya rasa tidak banyak yang bersedia mendaftar untuk itu.”

Di sisi lain, Starmer dilaporkan terbuka menghadiri pertemuan resmi G7 di Paris, yang diusulkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, untuk membahas isu global termasuk Greenland dan Ukraina.

Trump sebelumnya mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza, yang mencakup tokoh-tokoh seperti Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Trump Steve Witkoff, menantu Trump Jared Kushner, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Presiden Bank Dunia Ajay Banga, dan Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS Robert Gabriel. Inisiatif ini juga mengundang sejumlah pemimpin negara lain, termasuk Rusia dan Belarus.

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa Moskow belum mengetahui seluruh rincian rencana ini dan berharap memperoleh klarifikasi dalam pembicaraan dengan AS. Sementara itu, Presiden Belarus Alexander Lukashenko, yang menyetujui keikutsertaannya, menegaskan bahwa partisipasi dalam dewan tersebut tidak menuntut kontribusi 1 miliar dolar AS.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru