Ratusan Warga Kolombia Demo di Depan Kedubes AS, Protes ‘Penculikan‘ Maduro


 Ratusan Warga Kolombia Demo di Depan Kedubes AS, Protes ‘Penculikan‘ Maduro Warga berpartisipasi dalam unjuk rasa di Caracas, Venezuela, Kamis (8/1/2026). Sebuah demonstrasi diadakan di ibu kota Venezuela, Caracas, pada hari Rabu, di mana para peserta mengadvokasi pembelaan kedaulatan nasional dan menuntut agar pemerintah AS membebaskan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya. ANTARA FOTO/Xinhua/Ding Hongfa/nym.

BOGOTA, ARAHKITA.COM — Suasana di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bogota, Kolombia, memanas pada Kamis (15/1/2026). Ratusan warga turun ke jalan menggelar aksi protes, menentang apa yang mereka sebut sebagai “penculikan” Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Aksi tersebut digelar atas koordinasi Federasi Pekerja Pendidikan Kolombia (Fecode), serikat guru terbesar di Kolombia. Para peserta membawa spanduk, meneriakkan kecaman, dan menuntut penghentian tindakan yang dinilai sebagai bentuk kekerasan politik terhadap Venezuela.

Salah satu peserta aksi, Juan Fernando Romero—aktivis sekaligus pengacara—menyebut penahanan Maduro bukan sekadar urusan diplomasi, melainkan tindakan brutal yang meninggalkan korban jiwa.

“Ini bentuk perlawanan terhadap pembunuhan brutal lebih dari 130 orang dan penculikan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya… Ini tindakan memalukan dari kebiadaban yang mengerikan,” ujarnya kepada RIA Novosti, Jumat (16/1/2026) dilansir Antara.

Kronologi: Serangan 3 Januari dan Penahanan Maduro

Gelombang protes ini tak lepas dari peristiwa pada 3 Januari 2026, saat Amerika Serikat melancarkan operasi besar-besaran di Venezuela. Dalam operasi tersebut, Maduro dan Cilia Flores ditangkap, lalu dibawa ke New York.

Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan menjalani proses hukum atas dugaan keterlibatan dalam “narkoterorisme”, yang menurut Washington dianggap mengancam keamanan, termasuk bagi Amerika Serikat. 

Namun, dalam sidang di pengadilan New York, keduanya menyatakan tidak bersalah atas seluruh tuduhan. 

Venezuela Angkat Presiden Sementara

Di tengah situasi politik yang genting, Mahkamah Agung Venezuela menyerahkan sementara tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodríguez.Rodríguez lalu dilantik sebagai presiden sementara pada 5 Januari 2026, dengan pengucapan sumpah di hadapan Majelis Nasional. 

Aksi di Bogota menunjukkan bahwa dampak konflik Venezuela–AS kini bergeser melampaui batas negara. Bagi para demonstran Kolombia, ini bukan sekadar isu luar negeri, melainkan alarm keras bagi masa depan demokrasi dan kedaulatan Amerika Latin.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru