Loading
Ilustrasi - Suasana kota di Greenland. ANTARA/Anadolu/py.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Peta ketegangan geopolitik dunia perlahan bergeser ke wilayah Arktik. Greenland, pulau besar yang selama ini dikenal sebagai “negeri es”, kini berubah menjadi kawasan yang makin sering disebut dalam isu keamanan global.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa negaranya akan mengirim aset militer darat, laut, dan udara ke Greenland dalam beberapa hari ke depan. Pengiriman ini bertujuan memperkuat satuan militer Prancis yang sudah lebih dulu tiba di pulau tersebut untuk mengikuti rangkaian latihan militer bersama, di tengah memanasnya situasi akibat klaim teritorial Amerika Serikat.
Macron menyampaikan hal itu pada Kamis (15/1/2026) saat bertemu personel militer di sebuah pangkalan udara Prancis di dekat Marseille. Ia menegaskan, kehadiran awal pasukan Prancis di Greenland bukan sekadar simbolik.
“Tim militer Prancis pertama sudah berada di lapangan dan akan diperkuat dengan aset darat, udara, dan laut dalam beberapa hari mendatang,” ujar Macron.Sebelumnya, laporan penyiar BFMTV menyebut sekitar 15 tentara Prancis telah mendarat di Greenland, mengutip sumber militer.
Denmark Perkuat Posisi, NATO Dilibatkan
Ketegangan meningkat sejak Rabu (14/1/2026) ketika Kementerian Pertahanan Denmark mengumumkan rencana memperkuat kehadiran militer di Greenland bersama sekutu NATO. Bukan hanya soal jumlah personel, Denmark juga menyatakan akan menaikkan intensitas latihan militer di wilayah tersebut.
Macron memastikan Prancis ikut dalam skema latihan yang dipimpin Denmark itu. Artinya, Greenland kini menjadi titik latihan dan konsolidasi militer yang semakin serius, bukan lagi wilayah yang dianggap “aman-aman saja”.
Klaim Trump Jadi Pemantik
Yang membuat situasi makin sensitif adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali menyebut Greenland seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat. Trump berdalih pulau itu penting untuk kepentingan strategis Amerika, termasuk demi menjaga keamanan nasional dan “pertahanan dunia bebas”, terutama dari pengaruh China dan Rusia.
Pernyataan itu langsung memicu respons tegas dari Denmark dan otoritas Greenland. Keduanya memperingatkan AS agar tidak melangkah lebih jauh, sembari menuntut penghormatan terhadap integritas teritorial dikutip Antara.
Mengapa Greenland Jadi Rebutan?
Greenland memang bukan pulau biasa. Selain posisinya yang strategis di kawasan Arktik, wilayah ini juga dianggap penting bagi jalur pertahanan, jalur pelayaran masa depan, hingga potensi sumber daya alam.
Secara historis, Greenland merupakan koloni Denmark hingga 1953. Setelah itu, statusnya berubah menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Greenland kemudian memperoleh otonomi pada 2009, sehingga memiliki kewenangan luas untuk mengatur pemerintahan dan kebijakan domestiknya sendiri.
Namun, di tengah meningkatnya persaingan geopolitik global, status otonomi itu kini ikut terseret arus: Greenland bukan hanya soal identitas dan pemerintahan, tapi juga soal kekuatan militer dan pengaruh kawasan.