Kamis, 22 Januari 2026

Suhu Global Turun di 2025 karena La Niña, Tapi Ilmuwan Wanti-wanti Rekor Panas Baru Segera Datang


 Suhu Global Turun di 2025 karena La Niña, Tapi Ilmuwan Wanti-wanti Rekor Panas Baru Segera Datang Seorang petugas pemadam kebakaran, mengenakan pakaian pelindung, tampak dalam siluet saat menembakkan meriam air ke sebuah rumah yang terbakar dengan matahari bersinar menembus langit berkabut di latar belakang, di Altadena pada 9 Januari 2025. (Justin Sullivan/ Getty ImageBBC)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Jika ada yang berharap 2025 menjadi “tahun damai” bagi iklim, kabarnya tidak sepenuhnya demikian. Memang, data terbaru menunjukkan suhu global 2025 sedikit lebih rendah dibanding 2024, namun para ilmuwan memperingatkan: rekor panas baru tetap sangat mungkin muncul dalam waktu dekat—bahkan mungkin lebih ekstrem dari sebelumnya.

Menurut laporan baru dari Copernicus (layanan iklim Eropa) dan Met Office (Inggris), penurunan ini dipengaruhi oleh hadirnya La Niña, pola alami di Samudra Pasifik yang biasanya menurunkan suhu rata-rata global. Tapi jangan salah paham: ini bukan tanda bumi mulai membaik.2025 “lebih dingin”, tapi tetap jauh lebih panas dari era normal

Walau La Niña memberi efek pendinginan, 2025 masih termasuk dalam jajaran tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan modern. Tiga tahun terakhir—2023, 2024, dan 2025—menjadi periode panas yang seperti tidak memberi jeda bagi planet ini.

Copernicus dan Met Office memperkirakan suhu rata-rata global 2025 berada lebih dari 1,4°C di atas masa pra-industri, yakni sebelum manusia membakar bahan bakar fosil secara masif pada akhir 1800-an. Artinya, meski 2025 tidak “memuncak” seperti 2024, dunia tetap berada dalam fase pemanasan yang sangat serius.

“Kalau dua puluh tahun lagi kita melihat kembali periode pertengahan 2020-an, kita mungkin menganggap tahun-tahun ini relatif tenang,” kata Dr. Samantha Burgess, wakil direktur Copernicus. Kalimat ini terdengar menakutkan, karena ia menyiratkan: yang lebih buruk masih bisa terjadi.

Pendinginan Alami Tidak Bisa Menahan Pemanasan akibat Emisi

Para ahli menegaskan, variasi alami seperti La Niña memang bisa membuat suhu global naik-turun sedikit tiap tahun, tetapi arah besarnya tetap menanjak karena satu penyebab dominan: emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.

“Kita sangat memahami bahwa jika gas rumah kaca terus dipompa ke atmosfer, konsentrasinya meningkat dan planet akan merespons dengan menghangat,” jelas Profesor Rowan Sutton, Direktur Met Office Hadley Centre.

Dengan kata lain: La Niña mungkin menahan laju panas sementara, tapi pemanasan global tidak berhenti. Dan selama emisi tidak ditekan drastis, rekor panas hanya tinggal menunggu waktu.

Cuaca Ekstrem Tidak Ikut “Mendingin”

Yang membuat persoalan ini semakin rumit: meskipun suhu global 2025 tak setinggi 2024, bencana terkait cuaca tetap brutal.

Salah satu contoh paling mencolok adalah kebakaran besar California pada Januari 2025, yang disebut sebagai salah satu bencana cuaca paling mahal dalam sejarah Amerika Serikat. Di sisi lain dunia, badai besar juga terus terjadi—misalnya Badai Melissa pada Oktober 2025 yang menyebabkan banjir parah di Haiti dan kerusakan di wilayah Karibia.

Ilmuwan menjelaskan, pemanasan global membuat badai semacam itu membawa dampak lebih keras: angin lebih kuat, hujan lebih deras, dan kerusakan lebih luas. Karena atmosfer yang lebih hangat mampu menyimpan lebih banyak energi dan uap air—kombinasi yang memperburuk badai.

Target 1,5°C Makin Sulit Dipertahankan

Dunia sebenarnya sudah punya kesepakatan: menahan kenaikan suhu global agar tidak menembus 1,5°C. Target ini disepakati hampir 200 negara melalui Perjanjian Paris 2015, karena selisih kecil antara 1,5°C dan 2°C bisa memicu konsekuensi jauh lebih parah.

Namun, data terbaru memperkuat kecemasan bahwa batas ini tidak akan bertahan lama.

“Berdasarkan data terbaru, tampaknya kita akan melampaui tingkat pemanasan jangka panjang 1,5 derajat pada akhir dekade ini,” kata Burgess dilaporkan BBC.

Artinya, walau ada fluktuasi tahunan, tren jangka panjangnya tetap mengarah pada satu hal: bumi semakin dekat menuju level pemanasan yang tidak aman.

El Niño, La Niña, dan “Peringatan” dari Tahun 2025

Dalam iklim global, El Niño biasanya menaikkan suhu, sementara La Niña menurunkannya. Tahun 2024 yang memecahkan rekor panas terjadi bersamaan dengan pengaruh El Niño, sementara 2025 “sedikit tertahan” karena La Niña kembali aktif.

Namun inilah yang membuat ilmuwan khawatir: jika dalam tahun La Niña saja suhu tetap sangat tinggi, maka tren pemanasan benar-benar sedang melaju cepat.

Dr. Zeke Hausfather, ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, menyebut kondisi ini sebagai sesuatu yang “agak mengkhawatirkan.”

Ada Misteri di Balik Lonjakan Panas 2023–2025?

Yang juga menarik perhatian para peneliti: lonjakan suhu sejak 2023 tidak hanya besar, tetapi juga konsisten, sampai memecahkan rekor hampir di semua bulan.Bahkan, sejumlah ilmuwan mulai mendiskusikan kemungkinan ada faktor tambahan selain emisi karbon dan El Niño. Beberapa teori yang muncul antara lain:

perubahan pada awan

perubahan aerosol (partikel kecil di atmosfer yang biasanya membantu memantulkan energi Matahari kembali ke luar angkasa)

Hausfather menyebut suhu ekstrem yang bertahan hingga 2025 sebagai sinyal bahwa masih ada bagian dari sistem iklim yang belum sepenuhnya kita pahami.Meski begitu, para ahli menegaskan: belum cukup data untuk menyimpulkan apakah periode 2023–2025 akan mengubah proyeksi jangka panjang secara permanen.

Rekor Baru Akan Datang—tapi Masa Depan Belum “Terkunci”

Kabar buruknya, rekor baru sangat mungkin muncul lagi dalam beberapa tahun ke depan. Kabar baiknya: ini bukan takdir yang sudah final.

“Kita bisa sangat memengaruhi apa yang terjadi,” kata Sutton, “baik dengan mengurangi perubahan iklim—memangkas emisi gas rumah kaca—dan juga beradaptasi agar masyarakat lebih tangguh.”

Kalimat ini penting untuk diingat: meski tren iklim mengarah pada kondisi yang lebih ekstrem, manusia tetap punya ruang untuk mengubah arah cerita. Tapi syaratnya jelas—pengurangan emisi harus nyata dan drastis, bukan sekadar janji tahunan.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru